Minggu, 11 November 2012

MY MINI THESIS






KEPEMIMPINAN DAN POLA KOMUNIKASI ORGANISAS KIAI

(STUDI PADA ORGANISASI DI MAJELIS KIAI AL-AMIEN PRENDUAN)


Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Guna Memperoleh Gelar Serjana Sosial Islam Pada
Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah
Di Institut Dirosat Islamiah Al-Amien (IDIA) Prenduan
Sumenep Madura Jawa Timur











Oleh:
ACHMAD JEDI
NIMKO: 2008.4.037.0411.1.00088

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT DIROSAT ISLAMIYAH AL-AMIEN PRENDUAN
SUMENEP JAWA TIMUR
TAHUN 2011
NOTA KONSULTASI

Nomer             : -
Lampiran         : 1 Eksamplar
Hal                  : Naskah Skripsi
                          Sdr. Achmad Jedi
Kepada Yth:
Rektor IDIA Prenduan
KH. Maktum Jauhari, MA
di_
           Kediaman

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Setelah mengadakan beberapa koreksi, perbaikan serta pengarahan seperlunya terhadap skripsi saudara:

Nama               : Achmad Jedi
NIM                : 2008.4.037.0411.1.00088
Jurusan            : Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)
Judul                : KEPEMIMPINAN DAN POLA KOMUNIKASI ORGANISASI KIAI (STUDI PADA ORGANISASI MAJELIS KIAI AL-AMIEN PRENDUAN)

Maka dengan ini kami mohon agar skripsi saudara tersebut dapat segera diseminarkan.
Demikian harapan kami dan atas perhatiannya diucapkan banyak terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb


Prenduan, 11April2012

Mengetahui,

Pembimbing I,



Anwar Dani, M.Sos.I
Pembimbing II,



Rudi Hartono, S.Sos.I


PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan di depan tim penguji
Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan Sumenep Madura, dan telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata 1
Pada Fakultas Tarbiyah Program Pendidikan Agama Islam (PAI)

Pada:
Senin:   05 Mei 2012



TIM PENGUJI
1.      Hisyam el-Qodri, M. Kes            (Penguji I) (………………….)

2.      Drs. Mohammad Rusli, M.Si       (Penguji II)      (………………….)

3.      Abdul Qodir Jailani, M.Pd.I        (Penguji III) (………………….)




Mengesahkan,
Rektor Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan
Sumenep Madura




KH. Maktum Jauhari, MA

PERSEMBAHAN
Kupersembahkan skripsi ini kepada:
§  Ibu dan ayahku tercinta “MarsukandanSiti Aminah”, yang telah mendoakan dan memberi motivasi serta nasehat yang tiada henti agar aku tetap semangat dalam menyelesaikan jenjang pendidikan kesarjanaan.
§  Abangku tercinta “Munawar, S.Pd.I” yang telah mengorbankan tetesan-tetesan keringatnya untuk membembiayaiku dalam menyelasakan jenjeng pendidikanku dibangku kuliah.
§  Embakku tercinta “Nur Janah” yang tak henti-hentinya memberikan motivasi, pandangan-pandan serta nasehat-nasehatnya.
§  Kakak perempuanku “Jawariyah”, kakak iparku “Anas Alifi” Kakak sepupuku “Muniri”
§  Guru-guruku yang terhormat. Bimbingan, arahan dan kritikannya tetap saya harapkan untuk sarana berbenah diri.
§  Teman-temankukhususnya shof “Yogenlisfis-Najfa Syagirda”semoga kita tetap kompak dan semangat dalam setiap perbuatan yang baik dan diridhoi Allah.
§  Segenap orang yang telah membantuku, baik secara langsung maupun tidak langsung. Aku ucapkan terima kasih atas bantuannya, semoga Allah membalasnya dan dijadikan amal shaleh.
MOTTO
ÙˆَجَعَÙ„ْÙ†َا Ù…ِÙ†ْÙ‡ُÙ…ْ Ø£َئِÙ…َّØ©ً ÙŠَÙ‡ْدُونَ بِØ£َÙ…ْرِÙ†َا Ù„َÙ…َّا صَبَرُوا ÙˆَÙƒَانُوا بِآيَاتِÙ†َا ÙŠُوقِÙ†ُون (السجدة: ٢٤)
Artinya: Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami (Q.S As-sajadah:24)


“Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir” (Nusus)








ABSTRAKSI

Jedi,Achmad2012.                  KEPEMIMPINAN DAN POLA     KOMUNIKASIORGANISASI KIAI (Studi Atas Sistem kepemimpinan Kolektif dan Pola Komunikasi Organisasi di Majelis Kiai Al-Amien Prenduan)

  Kata kunci: Kepemimpinan, Komunikaisi, Kiai

Konsepsi kepemimpinan dalam sebuah organisasi menjadi hal penting yang harus diperhatikan.Hal itu karena kepemimpinan adalah inti dari sebuah organisi yang didalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpi dengan yang dipimpin dalam beberapa literatur disebutkan bahwa kepemimpinan sangat berpengaruh besar dalam kesuksesan sebuah organisasi. Untuk itu dalam menjalankan visi dan misinya, Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan membentuk sebuah sistem kepemimpinan kolektif yang dipegang langsung oleh Majelis Kiai Al-Amien Prenduan  yang merupakan lembaga tertinggi di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Selain itu, dalam sebuah organisasi tidak akan terlepas dari sebuah proses komunikasi baik itu komunikasi vertikal ataupun komunikasi horizontal. Maka hal ini perlu diketahui bagaimana sistem kepemimpinan kolektif dan pola komunikasi organisasi yang ada di Majelis Kiai Al-Amien Prenduan.
Penelitian ini berfokus pada sistem kepemimpinan kolektif dan pola komunikasi organisasi di Majelis Kiai Al A-Amien Prenduan
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode interview (wawancara)dengan cara tanya jawab secara lisan yang dilakukan langsung ke sumber informasi. Selain itu, peneliti juga menggunakan metode observasi untuk memvalidasi hasil wawancara dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Sedangkan metode dokumentasi digunakan oleh peneliti untuk memperkuat data yang lain.
Penelitian ini menghasilkan bahwa sistem kepemimpinan kolektif adalah sistem kepemimpinan demokratik yang mana seluruh keputusan, kebijakan yang ada di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan di tentukan secara musyawarah mufakat oleh Majelis Kiai dan seluruh lapisan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan yang kemudian ketentuan akhir berada diDewan Riasah atau majelis kiai.sedangkan pola komunikasi di majelis kiai itu sendiri terdiri dari komunikasi vertikal yang terdiri dari dua betuk yaitu komunikasi lansung dan komunikasi tidak langsung yang berupa intruksi-intruksi, arahan-arahan serta petunjuk-petunjuk dari majelis kiai secara langsung sedangkan yang tidak langsung berupa disposisi pimpinan dan komunikasi horizontal yang mana anggota majelis kiai sering melakukan komunikasi organisai diluar forum.


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………….…….. i
NOTA KONSULTASI ………………………………………………………... ii
HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………… iii
PERSEBAHAN ……………………………………………………………….. iv
MOTTO ………………………………………………………………………… v
ABSTRAK ………………………………………………………..…………… vi
DAFTAR ISI ………………………………………………………………….. vii
DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………..ix
KATA PENGANTAR ………………………………………………………… xi
BAB I: PENDAHULUAN …………………………………………………….. 1
A.    Konteks Penelitian ………………………………………………….. 1
B.     Fokus Penelitian …………………………………………………….. 9
C.     Tujuan Penelitia …………………………………………………..… 9
D.    Kegunaan Penelitian ………………………………………………… 9
E.     Definisi Istilah …………………………………………………..… 10
F.      Sistematika pembahasan …………………………………………... 11
BAB II: KAJIAN PUSTAKA ………………………………………………... 13
A.    Tinjauan Teoritis tentang Kepemimpina …………………………... 13
1.      Pengertian Kepemimpinan …………………………………….. 13
2.      Model-model Kepemimpinan ……………………………….… 14
B.     Tinjauan Teoritis tentang Komunikasi …………………………….. 15
1.      Pengertian Komunikasi ……………………………………..…. 15
2.      Proses Komunikasi …………………………………………….. 17
3.      Model-model Komunikasi ………………...…………………… 19
C.     Tinjauan Teoritis tentang Komunikasi Organisasi ………………… 19
1.      Pengertian Organisasi …………………………………………. 19
2.      Macam-macam Organisasi …………………………………….. 21
3.      Pengertian Komunikasi Organisasi ………………………….… 21
D.    Tinjauan Teoritis tentang Kepemimpinan dan Pola
komunikasi Organisasi ………………………………………….… 22
1.      Kepemimpinan dalan Organisasi ……………………………… 22
2.      Pola Komunikasi dalam Organisasi …………………………… 23
3.      Korelasi antara Kepemimpinan dan
Pola Komunikasi Organisasi ………………..………………… 24
E.     Penelitian Terdahulu  ……………………………………………... 26
BAB III: METODE PENELITIAN ……………………………………….…. 28
A.    Jenis Penelitian dan Pendekatan …………………………………… 28
B.     Tempat Penelitian …………………………………………………. 28
C.     Sumber Data ………………………………………………………. 28
D.    Tehnik Pengumpulan data ………………………………………… 29
E.     Tehnik Pemeriksaan Keabsahan Data ……………………………... 30
F.      Tehnik Analisis Data …………………………………………….… 31




BAB IV: PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN ……………... 34
A.    Paparan Data
1.      Sekilas tentang Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan ……… 31
a.       Letak Geografis Pondok Pesantren
Al-Amien Prenduan ……………………………………….. 31
2.      Organisasi Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan …………… 36
a.       Dewan Riasah/Majelis Kiai ……………………………….. 36
b.      Majelis A’wan …………………………………………….. 38
c.       Kordinator Harian ………………………………………….40
d.      Yayasan Al-Amien Prenduan ……………………………… 41
1.      Biro Pendidikan ……………………………………….. 42
2.      Biro Dakwah dan Pengabdian Masyarakat ……………. 43
3.      Biro Kaderisasi dan Alumni …………………………… 44
4.      Biro Ekonomi dan Sarana …………………….………. 44
3.      Kepemimpinan di Majelis Kiai Al-Amien Prenduan ……….… 47
4.      Pola Komunikasi Organisasi Majelis Kiai
Al-Amien Prenduan …………………………………………… 56
B.     Temuan Penelitian …............................................................... 62
1.      Sistem kepemimpinan kolektif Majelis Kiai
Al-Amien Prenduan …………………………………………… 62
2.      Pola Komuniakasi Majelis Kiai Al-Amien Prenduan ………… 63
BAB V: PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN …………………………... 65
A.    Sistem Kepemimpinan Kolektif organisasi
Majelis Kiai Al-Amien Prenduan ………………………………….. 65
B.     Pola Komunikasi Organisasi Majelis Kiai
Al-Amien Prenduan ………………………………………………... 66
BAB VI: PENUTUP ………………………………………………………….. 69
A.    Kesimpulan ……………………………………………………….... 69
B.     Saran-saran ………………………………………………………… 70
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………… 71
LAMPIRAN-LAMPAIRAN ……………………………………………….… 73


















DAFTAR LAMPIRAN


No
Lampiran
Ket.
1
2
3
4
5
6
7
Transkip Wawancara
Catatan Lapangan
Triangulasi data
Reduksi Data
Foto Dokumentasi
Struktur organisasi Al-Amien
Surat Keterangan Penelitian
Skripsi Terjemahan Berbahasa Inggris
Lampiran I
Lampiran II
Lampiran III
Lampiran IV
Lampiran V
Lampiran VI
Lampiran VII













KATA PENGANTAR
Alhamdullah dengan ucapan puji syukur, penulis panjatkan kehadirat Allah Tuhan semesta alam atas limpahan nikmat taufik, hidayah, maunah dan inayah-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini yang berjudul KEPEMIMNAN DAN POLA KOMINIKASI ORGANISA KIAI (Studi pada Organisasi di Majelis Kiai Al-Amien Prenduan) dengan lancar dan sesuai dengan waktu yang ditentukan.
Shalawat dan salam semoga terus tercurahkan kepada junjungan nabi Muhammad SAW pembawa risalah kenabian terakhir yang telah membawa kita minaddzulumati ila an-nur, bagi keluarga dan sahabat-sahabatnya serta para pengikut jejaknya hingga datang hari pembalasan.
Dalam skripsi ini, penulis haturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dan meluangkan waktunya untuk membantu menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Terima kasih atas penghargaan ini saya khususkan kepada:
1.        Pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, KH. Muhammad Idris Jauhari, yang telah memberikan kesempatan untuk menimba ilmu di pondok ini.
2.        Rektor IDIA Prenduan KH. Maktum Jauhari, MA. yang selama ini telah memberi nasehat dan motivasi kepada kita semua
3.        Bpk. Anwar Dani , M.Sos.I sebagai pembimbing I dan Bpk. Rudi Hartono, S.Sos.I.sebagai pembimbing II. yang dengan sabar membimbing dan mengarahkan saya hingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
4.        Seluruh Majelis Kiai Al-Amien Prenduan yang telah bersedia menjadi narasumber dalam penelitian ini. Sehingga mempermudah penulis dalam memperoleh data dan dapat merampungkan penulisan skripsi ini.
5.        Penanggung jawab (PJ) Niha’ie Ust. Putra Lastika S.Fil.Iyang telahmencurahkan tenaga, pikiran serta waktu, untuk menyelenggarakansemua program keniha’iean IDIA Prenduan 2012
6.        Temen-temenku tercinta khususnya shof “Yogenlisfis dan Najfa Syagirda” dan semua temenku seperjuangan secara umum, tidaklah kesuksesan itu datang dengan sendiri. Tanpa mau bersusah payah mustahil kita bisa meraihnya.
7.        Semua pihak yang telah meluangkan waktu untuk membantu menyelesaikan skripsi ini. Ucapan banyak terima kasih saya sampaikan dan semoga Allah membalas semua amal kebaikan yang selama ini telah kalian lakukan.
Mudah-mudahan skripsi ini menjadi sumbangan literatur dan bermanfaat bagi siapa saja yang mau menelaahnya.Akhirnya, penulis sampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan dan kekurangan.Selain itu juga saran dan kritik dari semua pihak tetap penulis harapkan untuk kesempurnaa skripsi ini.
Prenduan, 05April 2012
                                                                        Penulis,

                                                                        Achmad Jedi
 






BAB I
PENDAHULUAN
A.  Konteks Penelitian
Manusia merupakan mahkluk yang diciptakan Allah, dengan struktur dan fungsi yang sangat sempurna bila dibandingkan dengan mahkluk Tuhan yang lainnya. Manusia juga diciptakan sebagai mahkluk multidimensi, memiliki akal dan pikiran dan kemampuan beriteraksi secara personal maupun sosial. Karena itu manusia disebut mahkluk yang unik, yang memiliki kemampuan untuk berinteraksi, bersosalisasi  antara satu dengan yang lainnya.
Di sisi lain, sebagai mahluk sosial, pada dasarnya manusia tidak bisa hidup secara sendiri, oleh karena itu manusia selalu membutuhkan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Dalam realitas kehidupan sosial, kehidupan manusia tidak akan terlepas dari kehidupan berkelompok. Oleh karena itu manusia sebagai mahluk yang mempunyai akal, fikiran maupun perasaan dalam kehidupannya pastilah mempunyai tujuan, baik tujuan induvidu maupun tujuan bersama.Hal inilah yang mendorong manusia untuk bekerjasama dan membentuk suatu kelompok-kelompok sosial yang diharapkan bisa saling berkerjasama dalam pencapaian tujuan tersebut.Hal inilah yang kemudian dikembangkan dan diaplikasikan ke dalam sebuah organisasi.
Liliweri (2010:239) mengatakan, “setiap orang menjalani kehidupannya dalam organisasi baik organisasi dalam pengertian sebagai cooparation (kerjasama) maupun organisasi sebagai masyarakat kecil yang memiliki nilai dan norma untuk kerja sama”.  Hal ini telah dijelaskan oleh Allah dalam al-Qur’an:
ÙˆَتَعَاوَÙ†ُوا عَÙ„َÙ‰ الْبِرِّ ÙˆَالتَّÙ‚ْÙˆَÙ‰ Ùˆَلا تَعَاوَÙ†ُوا عَÙ„َÙ‰ الإثْÙ…ِ ÙˆَالْعُدْÙˆَانِ ÙˆَاتَّÙ‚ُوا اللَّÙ‡َ Ø¥ِÙ†َّ اللَّÙ‡َ Ø´َدِيدُ الْعِÙ‚َاب ) الماءدة: Ù¢)
Artinya: “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan, dan jangan tolong menolonglah kamu dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah sesunggunya, Allah amat berat siksa-Nya”(QS. Al-Maidah: 2)
Dari ayat di atas cukup jelas bahwa tolong menolong atau kerjasama merupakan suatu hal yang dianjurkan oleh Allah dalam mendapatkan kemudahan dalam mencapai suatu tujuan bersama. Hal inilah yang mendorong manusia untuk membentuk suatu kelompok atau suatu organisasi guna mencapai tujuan bersama.
Organisasi sendiri secara harfiah mempunyai pengertian “Paduan dari bagian-bagian yang satu sama lainnya saling bergantung” (Effendi, 2009:114). Sedangkan menurut Bungin (2006:277) mengatakan “dalam sebuah organisasi memiliki tujuan baik itu tujuan umum maupun tujuanyang dimiliki oleh orang-orang dalam organisasi tersebut”. Hal inilah yang mendorong orang untuk membentuk sebuah organisasi untuk mencapai tujuan bersama.

Saat ini organisasi memang menjadi budaya yang banyak diaplikasikan dalam organisasi, baik perusahaan maupun politik serta organisasi yang ada di tengah-tengah masyarakat bahkan beberapa perusahaan memasang tulisan yang menunjukkan budaya organisasi mereka di tempat-tempat yang menarik perhatian. Misalnya di depan pintu masuk kantor, atau di dekat tempat para karyawan melayani pelanggan. Konsep budaya organisasi mulai berkembang  sejak awal tahun 1980-an. Konsep budaya organisasi diadopsi dari konsep budaya yang lebih dahulu berkembang pada disiplin ilmu antropologi (http://ruanginstalasi.wordpress.com/2011/06/21/budaya-organisasi-pesantren-1/.Diakses 18 November 2011).
Budaya organisasi yang saat ini mulai berkembang dalam kehidupan sosial ternyata tidak hanya diterapkan oleh perusahaan maupun politik.Organisasi sebagai sistem kerja kelompok untuk mencapai tujuan bersama, maka di dunia pesantrenpun juga menerapkan sistem organisasi guna mencapai visi dan misi yang ada di pesantren.Untuk  itu, dalam merealisasikan hal tersebut sangat dibutuhkan perencanaan yang matang dan sistematik agar tercapai hasil yang optimal sesuai dengan tujuan pesantren.

Secara historis, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang di-kembangkan secara indigenous oleh masyarakat Indonesia. Karena sebenarnya pesantren merupakan produk budaya masyarakat Indonesia yang sadar sepenuhnya akan pentingnya arti sebuah pendidikan bagi orang pribumi yang tumbuh secara natural. Terlepas dari mana tradisi dan sistem tersebut diadopsi, tidak akan mempengaruhi pola yang unik (khas) dan telah mengakar serta hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. (http://ruanginstalasi.wordpress.com/2011/06/21/budaya-organisasi pesantren-1/21Jun )

Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan merupakan lembaga yang berbentuk dan berjiwa pondok pesantren yang bergerak dalam lapangan pendidikan, dakwah, kaderisasi dan ekonomi sekaligus pula menjadi pusat studi islam. Al-Amien  membentuk sebuah sistem kepemimpinan kolektif yang bersifat transformasional  yaitu kepemimpinan yang memegang beberapa jabatan dan kohesif yaitu kepemimpinan yang saling berhubungan dengan beberapa anggota yang lain. Dengan kepemimpinan seperti ini diharapkan timbul kerja sama yang baik dalam mewujudkan cita-cita bersama dengan mentransformasikan nilai-nilai yang dianut untuk mendukung visi dan tujuan pondok pesantren. Untuk itu dibentuklah sistem organisasi yang merupakan lembaga tertinggi di pondok pesantren Al-Amien Prenduan yang disebut dengan istilah dewan riasah atau majelis kiai.Dewan riasah ini terdiri dari kiai-kiai senior yang ada di lingkungan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.Hal inilah yang menjadikan Pondok Pesanteren Al-Amien Prenduan mengalami perkembangan yang pesat dari tahun ketahun.
Ada banyak alasan untuk menciptakan model kepemimpinan kolektif di pesantren. Salah satu yang terpenting adalah karena islam sendiri mengajarkan syura atau musyawarah. Selain itu, pondok pesantren di masa-masa mendatang akan menghadapi persoalan-persoalan yang jauh lebih kompleks di bandingkan dengan apa yang di hadapinya sekarang sesuatu menuntut keterlibatan lebih banyak unsur dalam mengambil keputusan. Kepemimpinan yang induvidual dan otoriter juga cendrung menghambat keberlansunganeksitensi pondok pesantren sendiri.Dengan model kepemimpinan kolektif, seluruh unsur pimpinan bisa duduk bersama guna menemukan ide, merencanakan progaram, serta mengambil keputusan. Maka pesantren yang di pimpin dan di kelola secara kolektif cendrung akan lebih dinamis dan inovatif, tidak kaku, serta senantiasa siap menghadapi perubahan dalam bentuk apapun (Warkat, 2009-2010:1)

Gerak sebuah organisasi tentunya tidak akan terlepas dari faktor  kepemimpinan, dalam sebuah kepemimpinan itu terdiri dari pemimpin dan yang dipimpin (struktur organisasi). Hal  ini merupakan masalah penting untuk kelangsungan sebuah organisasi. Konsepsi kepemimpinan dalam sebuah organisasi menjadi hal penting yang harus diperhatikan.Hal itu karena kepemimpinan merupakan dinamika sosial yang didalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama.
Anoraga (2003:2) mengatakan “Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain melalui komunikasi baik langsung maupun tidak langsung dengan maksud untuk menggerakan orang lain agar penuh perhatian, kesadaran dan senang hati bersedia mengikuti kehendak-kehendak pemimpin tersebut. Mempengaruhi disini tentunya harus didasari dengan konsep diri dalam memimpin sebuah organisasi yang akan menjadi karakteristik kepemimpinan tersebut.
Bungin (2006:278) memaparkan kembali tentang masalah struktur dalam sebuah organisasi bahwasannya “organisasi memiliki suatu jenjang jabatan ataupun kedudukan yang memungkinkan semua induvidu dalam organisasi tersebut memiliki perbedaan posisi yang sangat jelas, seperti pimpinan, staf pimpinan dan karyawan.Masing-masing orang dalam posisi tersebut mempunyai tanggung jawab terhadap bidang pekerjaannya tersebut”.

Untuk itu dalam menerapkan sistem kepemimpinan kolektif yang bersifat transformasional dan kohesif,organisasi di majelis Kiai Al-Amien membentuk sebuah  formasi jabatan dengan formasi, KH. Muhammad Idris Jauhari sebagai ketua sekaligus pipimpinan dan pengasuh pondok pesantren Al-Amien Prenduan, KH. Maktum Jauhari, MA., sebagai wakil pengasuh/pimpinan sekaligus Rektor IDIA Prenduan, KH. Moh. Zainullah Rois, Lc., sebagai sekretaris sekaligus Pengasuh TMI Al-Amien Prenduan, KH. Moh. Khoiri Husni, S.Pd.I., sebagai bendahara sekaligus pengasuh MTA,  Al-Amien Prenduan, KH. Fauzi Rosul sebagai anggota sekaligus pengasuh Ma’had Salfy Al-Amien III, KH.Moh.Bahri As’ad, S.Pd.I sebagai anggota sekaligus pengasuh Pondok Putri I, Dr. KH. Ahmad Fauzi Tijani, MA sebagai anggota sekaligus wakil Rektor IDIA Prenduan.Mereka inilah yang terlibat dalam sebuah organisasi dan sekaligus sebagai dewan risalah atau majelis kiai yang berada di Pondok Pesantren Al-Amien prenduan.
Organisasi yang ada di majelis kiai Al-Amien Prenduan, tentunya antara para anggota kiai sebagai pelaku organisai tidak terlepas dari sebuah hubungan interaksi komunikasi antara kiai satu dengan kiai lainya sebagai indikator kuat bagi keberlangsungan sebuah manajemen dalam organisasi tersebut.
Mengenai organisasi dengan komunikasi, William V. Hanney dalam sebuah bukunya, Communication and Organizational Behavior, yang dikutip oleh Effendi (2009:116) mengatakan “organisasi terdiri atas sejumlah orang, ia melibatkan keadaan saling bergantung dan kebergantungan memerlukan kordinasi, koordinasi mensyaratkan komunikasi”.
Effendi (2009:116) juga mengatakan, “interaksi yang harmonis diantara para karyawan suatu organisasi, baik secara hubungan timbal balik maupun secara horizontal disebabkan oleh komunikasi” karena itulah komunikasi sebagai alat penyapaian pesan, gagasan dan pikiran menjadi konsep keberhasilan dari sebuah organisasi terutama organisasi yang berada di majelis kiai Al-Amien Prenduan.
Sebagaimana yang dinyatakan Bungin(2006:261) bahwa Komunikasi merupakan “sebuah tindakan untuk berbagi informasi, gagasan ataupun pendapat dari setiap partisipan komunikasi yang terlibat di dalamnya guna mencapai kesamaan makna. Tindak komunikasi tersebut dapat dilakukan dalam berbagai konteks, antara lain adalah dalam ruang lingkup organisasi”.
Dalam komunikasi antar anggota majelis kiai Al-Amien Prenduan, tentunya tidak terlepas dari sebuah proses bagaimana komunikasi yang akan disampaikan oleh kiai yang satu terhadap kiai yang lain dapat diterima, baik itu informasi maupun opini dalam mengembangkan visi dan misi dari organisasi tersebut. Hal ini sejalan dengan Effendi( 2009:11) bahwa Proses komunikasi pada hakikatnya adalah “proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan)”.
Dari inilah efektivitas dari sebuah organisasi erat kaitannya dengan bagaimana proses komunikasi yang ada dalam sautu organisasi yang ada di majelis Kiai Al-Amien Prenduan.  Pola komunikasi organisasi yang merupakan hal yang sangat penting dalam menyampaikan suatu pesan, baik itu proses komunikasi antara atasan kepada bawahan ataupun bawahan kepada atasan, hal ini akan sangat mempengaruhi kepada kelancaran organisasi tersebut.
Dalam rangka membentuk kepemimpinan kolektif yang bersefat transformasional dan kohesif, selain anggota majlis kiai yang berada dalam suatu naungan organisasi, dewan riasah juga berperan sebagi konseptor, manajer, dan supervisor yang selalu mengedepankan responsibility dan dedikasinya sebagai pemimpin.Oleh karenanya, beberapa anggota Dewan Riasah ini di amanahkan untuk menjadi pengasuh di suatu lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.Hal ini yang menjadikan sistem organisasi yang ada di majlis kiai Al-Amien Prenduan berbeda dengan sistem organisasi pada umumnya.
Maka dari paparan di atas maka timbul pertanyaan,bagaimakah sistem kepemimpinan kolektif yang bersifat transformasional dan kohesif yang ada di majlis kiai Al-Amien Prenduan serta bagaimana hubungan dan proses komunikasi antar anggota majelis kiai yang terikat dalam suatu organisasi dewan riasah yang merupakan lembaga tertinggi di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.
Tentunya fenomena ini berbeda dengan sistem organisasi pada umumnya, karena seperti yang telah dipaparkan diatas selain kerterlibatan mereka dalam suatu organisasi juga sebagai seorang pemimpin suatu lembaga yang ada di Al-Amien prenduan.Tentunya pola komunikasi dalam organisasi yang ada di majlis Kiai Al-Amien Prenduan berbeda dengan pola komunikasi yang ada di organisasi pada umumnya mengingat keanggotaan dari organisasi ini adalah para kiai-kiai senior yang ada di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.
Terkait masalah-masalah di atas, peneliti tertarik untuk meneliti lebih jauh dan mengangkat permasalahan ini untuk dikaji secara ilmiah yang sekaligus menjadi judul skripsi peneliti yaitu “KEPEMIMPINAN DAN POLA KOMUNIKASI ORGANISASI KIAI (Studi atas sistem Kepemimpinan kolektif dan Pola Komunikasi Organisasi di Majelis Kiai Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan)”.
B.  Fokus penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti dapat merumuskan pokok pembahasan dalam kegiatan penelitian skripsi ini, yaitu:
1.      Bagaimanakah sistem kepemimpinan kolektif di organisasi majelis kiai Al-Amien Prenduan?
2.      Bagaimanakah pola komunikasi organisasi majelis kiai Al-Amien Prenduan?
C.  Tujuan penelitiana
Dari fokus penelitian diatas maka tujuan yang hendak dicapai peneliti adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui sistem kepemimpinan kolektif di organisasi majelis kiai Al-Amien Prenduan.
2.      Untuk mengetahui pola komunikasi organisasi majelis kiai Al-Amien Prenduan.

D.  Kegunaan penelitian
1.      Secara akademis
Sebagai bahan informasi pendahuluan bagi penelitian yang mirip di masa-masa akan datang, atau sebagai bahan informasi pembanding bagi penelitian yang sama,namun memiliki sudut pandang yang berbeda.
2.    Secara praktis
Secara khusus, hasil penelitian ini berguna bagi majelis kiai Al-Amien Prenduan sebagai bahan evaluasi (penilaian) tentang bagaimana menerapkan  kepemimpinan kolektif yang bersifat transformasional dan menerapkan pola komunikasi dalam berorganisasi di majelis kiai Al-Amien Prenduan dalam berorganisasi.
E.  Defenisi istilah
Untuk memperjelas istilah-istilah, maka perlu kiranya penulis membuat batasan istilah sebagai berikut:
1.      Definisi konseptual
a.     “Komunikasi Organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi” (Wiryanto, 2005).
b.    ”Kiai adalah gelar yang diberikan oleh masyarakat Jawa kepada seorang ahli ilmu agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren serta mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada santri” (Kiswanto, 2008:22).

c.   “Kepemimpinan adalah kemampuan induvidu untuk mempengaruhi, memotivasi dan membuat orang lain mampu memberi kontribusi demi efektifitasnya keberhasilan sebuah organisasi” (House et. Al., 1999, h. 184. Dikutip dari Yulk, 2010:4)
d.  “Pola komunikasi atau model komunikasi adalah replika komunikasi dari dunia nyata” (Mulyana, 2010:143) 
e.  “Majelis Kiai atau dewan risalah adalah lembaga tertinggi yang ada di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan (Warkat, 2011:1)
2.      Definisi Oprasional
Dari definisi-definisi konseftual diatas, Maka dapat diambil kesimpulan bahwa maksud dari kepemimpinan dan pola komunikasi organisasi dalam penelitian ini adalah pada sistem kepemimpinan kolektif yang bersifat transformasional dan kohesif yang ada di majelis kiai Al-Amien prenduan serta pola komunikasi  antar anggota majlis kiai Al-Amien Prenduan dalam mengembangkan organisasi yang ada di majlis kiai Al-Amien prenduan.
F.   Sistimatika pembahasan
Penelitian ini akan dibahas secara metodis dan sistematis yang mana dalam keseluruhan penelitian ini terdapat lima bab, yaitu
1.      Bab I : Pendahuluan
Dalam bab ini dikemukakan konteks penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, batasan istilah dan sistematika penelitian


2.      Bab II : Kajian Pustaka
Dalam bab ini akan mengemukakan kajian pustaka yang terdiri dari komunikasi meliputi pengertian komunukasi, proses komunikasi, model-model komunikasi kemudian komunikasi organisasi meliputi pengertian komunikasi organisasi, pengertian organisasi, macam-macam organisasi kemudian membahas kepemimpinan meliputi pengertian kepemimpinan, model-model kepemimpinan dan kepemimpinan kiai kemudian membahas tentang kepemimpinan dan pola komunikasi organisasi yang meliputi kepemimpinan dalam organisasi, pola komunikasi dalam organisasi, korelasi antara kepemimpinan dan pola komunikasi.
3.      Bab III : Metode Penelitian
Dalam bab ini mengemukakan jenis penelitian dan pendekatan, tempat penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, teknik pemeriksaan keabsahan data dan teknik analisis data.
4.      Bab VI : Laporan Penelitian
Dalam bab ini dikemukakan paparan data dan temuan data penelitian yang ditemukan oleh peneliti.
5.      Bab V : Pembahasan Hasil Temuan
Agar paparan data dan temuan data lebih jelas dan gambang maka peneliti akan memaparkan pembahasan hasil penelitian dalam bab ini.
6.      Bab VI : Penutup
Bab terakhir merupakan generalisasi dari keseluruhan kajian analisis data yang berisi kesimpulan dari hasil penelitian secara keseluruhan serta berisi saran-saran penulis bagi pembaca atau peminat peneliti selanjutnya berdasarkan kekurangan dan kelemahan dalam penelitian ini, baik yang menyangkut subjek penelitian ataupun objek penelitian.




















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.  Tinjauan Teoritis Tentang Kepemimpinan
1.      Pengertian Kepemimpinan
Ada beberapa pengertian yang berkenaan dengan masalah kepemimpinan namun pada intinya semua dari pengertian ini mempunyai kesamaan. Di antara definisi dari kepemimpinan adalah:
Kepemimpinan adalah merupakan suatu proses mempengaruhi yang termanifestasikan dalam prilaku-prilaku dan interaksi-interaksi antara pimpinan dan bawahan,yang terjalin dalam suatu konteks tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan bersama (Raihani, 2011:25). Namun menurut Suprianto (2007:17) kepemimpinan adalah kemampuan dan kesiapan yang di miliki oleh seseorang untuk mempengaruhi, memaksa orang lain agar menerima pengaruhnya untuk mencapai tujuan yang dimaksud.
Sedangkan Handoko (2003:294) mengatakan bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Berkaitan dengan kepemimpinan ini, Allah berfirman dalam al-Qur’an:



ÙˆَجَعَÙ„ْÙ†َا Ù…ِÙ†ْÙ‡ُÙ…ْ Ø£َئِÙ…َّØ©ً ÙŠَÙ‡ْدُونَ بِØ£َÙ…ْرِÙ†َا Ù„َÙ…َّا صَبَرُوا ÙˆَÙƒَانُوا بِآيَاتِÙ†َا ÙŠُوقِÙ†ُون (السجدة: ٢٤)
Artinya: Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang  memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami (Q.S As-sajadah:24)

Ada implikasi penting dari defenisi-defenisi diatas yaitu:
a.      Kepemimpinan menyangkut orang lain, bawahan atau pengikut yaitu kesediaan mereka untuk menerima pengarahan dari pemimpin.
b.      Kepemimpinan menyangkut suatu pembagian kekuasaan yang tidak seimbang di antara para pemimpin dan anggota kelompok. Para pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan para anggota kelompok, tetapi para anggota kelompok tidak dapat mengarahkan kegiatan-kegiatan pemimpin secara langsung.
c.       Kepemimpinan yang menggunakan pengaruh, dengan kata lain para pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan, tetapi juga dapat mempengaruhi bawahan dalam menentukan cara bagaimana tugas itu di laksanakan dengan tepat.
2.      Model-Model Kepemimpinan
Pada dasarnya seorang pemimpin melakukan kegiatanya dalam membibing, mengarahkan, mempengaruhi, menggerakkan para pengikutnya dalam rangka mencapai tujuan.Untuk itu diperlukan kefektifan dalam memimpin, semua itu tergantung dari model kepemimpinan yang di terapkan oleh pemimpin tersebut.
Anoraga, (2003:7-8) membagi model atau gaya kepemimpinan menjadi tiga jenis yaitu:
a.       Kepemimpinan otokratik yaitu kepemimpinan yang berdasarkan atas kekuasaan mutlak segala keputusan berada di satu tangan. Model kepemimpinan ini sering membuat pengikutnya tidak senang dan sering frustasi.
b.      Kepemimpinan Demokratik yaitu kepemimpinan berdasarkan demokrasi, dalam arti bukan di pilihnya si pemimpin itu secara demokratik melainkan cara yang dilaksanakan pemimpin yang demokratik. Sipemimpin melaksanakan kegiatan sedemikian rupa sehigga setiap hasil keputusan merupakan hasil musyawarah
c.       Kepemimpinan Bebas yaitu seorang pemimpin sebagai penonton bersifat fasif.
B.  Tinjauan Teoritis Tentang Komunikasi
1.      Pengertian Komunikasi
Sebagai makhluk sosial manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lainnya.Ia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Rasa ingin tahu ini memaksa manusia untuk berkomunikasi (Cangara, 2009:1).
Istilah komunikasi dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan communication, berasal dari communicatio atau dari kata communis yang berarti sama atau sama maknanya atau pengertian bersama, dengan maksud untuk mengubah pikiran, sikap, prilaku, penerima dan melaksanakan apa yang di inginkan oleh komunikator (Widjaja, 2008:8)
Dalam garis besarnya komunikasi mempunyai pengertian proses pertukaran informasi, biasanya melalui sistem simbol yang berlaku umum dengan kualitas yang bervariasi (Mufid, 2005:3). Sedangkan menurut Mulyana (2010:69) komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.
Sementara Cangara (2009:19-20) mendefinisikan, komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang-orang, mengatur lingkungannya dengan membangun hubungan antar sesama manusia melalui pertukaran informasi untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu.
Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwasannya komunikasi merupakan alat dalam menyampaikan sesuatu atau pesan yang akan kita sampaikan kepada orang lain dengan tujuan agar orang lain memahami apa yang kita maksud.  Dalam kehidupan sehari-hari komunikasi setidaknya mengisyaratkan betapa pentingnya komunikasi karena dengan komunikasi manusia dapat membangun konsep diri, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagian, terhindar dari tekanan dan keraguan dan lewat komunikasi manusia bisa berhubungan dengan orang lain.
Dalam hal ini, Liliweri (2010:v) mengatakan komunikasi memegang peranan yang sangat penting dalam setiap kehidupan manusia. Artinya, manusia memerlukan komunikasi dengan lingkungan sekitarnya, dan sekaligus hendak mengkomunikasikan apa yang menjadi keinginanannya kepada berbagai pihak, baik kepada induvidu, masyarakat maupun kepada Tuhan. Dengan komunikasi, manusia bisa menyatakan apa yang akan disampaikan.
2.      Proses Komunikasi
Handoko (2003:273) mendefinisikan proses komunikasi yang paling sederhana adalah terdiri dari pengirim, berita dan penerima. Sedangkan menurut Widjaja (2008:11-12) bahwasanya dalam bahasa komunikasi terdiri dari beberapa komponen yaitu: a) Source (sumber); b). Communicator (penyampai pesan); c).Message (pesan); d).Communican (penerima pesan); e).Effect (hasil)
Begitupun Bungin (2006:259) melakukan proses komunukasi melalui beberapa unsur yaitu:
a.       Ideation, yaitu proses penciptaan gagasan atau pemilihan seperangkat informasi untuk dikomunikasikan.
b.      Encoding, yaitu menerjemahkan informasi atau gagasan pada kata-kata, tanda-tanda atau lambang-lambang untuk menciptakan efek terhadap orang lain.
c.        Penyampaian pesan yang telah disandi (encode) dengan cara berbicara, menulis, menggambar, ataupun melalui suatu tindakan tertentu.
d.      Penerima pesan yang akan memberikan feedback atau umpan balik yang memungkinkan sumber mempertimbangkan kembali isi pesan yang telah disampaikan.
Dalam hal ini Effendi (2009:11) mengklasifikasikan proses komunikasi menjadi dua tahap yaitu:
a.       Proses komunikasi secara primer yaitu proses penyampaian pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komuniakasi adalah bahasa, isyarat, gambar, warna dan lain sebagainya yang secara langsung mampu menerjemahkan pikiran atau perasaan komunikator kepada komunikan.
b.      Proses komunikasi secara skunder yaitu proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama dikarenakan komunikan berada di tempat yang jauh. Biasanya melalui surat, telefon, surat kabar, majalah, radio, televisi, filem dan sebagainya.
Dari penjelasan diatas terlihat redaksi yang berbeda, namun pada intinya esensi dari proses komunikasi adalah bagaimana seorang komunikator menyampaikan sebuah informasi atau pesan melalui proses komunikasi yang dapat diterima oleh seorang komunikan.
3.      Model-model  Komunikasi
Menurut Mulyana(2010:143)Model komunikasi adalah reflika dari sebuah komunikasi sebagai model dragmatik dari dunia nyata. sedangkan Stewart L. Tubbs dan Syilvia Moss dalam buku Human Communication yang dikutip oleh Bungin (2009:257) menjelaskan tiga model komunikasi yaitu:
a.       Model komunikasi linier, yaitu model komunikasi satu arah (one-way view of communication) dimana komunikator memberikan stimulus dan komunikan memberikan respons atau tanggapan yang di harapkan.
b.      Model komunikasi dua arah, yaitu model komunikasi interaksional yang merupakan kelanjutan dari pendekatan linier. Pada model ini terjadi komunikasi umpan balik (feedback) gagasan. Ada pengirim (sender) dan penerima (receiver) yang akan melakukan seleksi dan memberikan respons balik terhadap pesan dari pengirim.
c.       Model komunikasi transaksional, yaitu komunikasi hanya dapat dipahami dalam konteks hubungan (relationship) di antara dua orang atau lebih. Proses komunikasi ini menekankan semua prilaku adalah komunikatif dan masing-masing pihak yang terlibat dalam komunikasi yang memiliki konten pesan dan saling bertukar dalam berinteraksi.


C.    Tinjauan Teoritis Tentang Komunikasi Organisasi
1.      Pengertian Organisasi
Organisasi secara harfiah berarti paduan dari bagian-bagian yang satu sama lainya saling bergantung (Effendi, 2009:114). Liliweri (2010:240) mendefinisikan organisasi dapat di artikan sebagai sebuah bentuk kerja sama antar manusia yang terkoordinasi untuk melaksanakan aktivitas induvidual secara kelompok berdasarkan kesepakatan tertentu.
Sedangkan menurut Handoko, (2003:167) Kata organisasi mempunyai dua pengertian umum.Pengertian pertama menandakan suatu lembaga atau kelompok fungsional, seperti organisasi perusahaan, rumah sakit, perwakilan pemerintah atau suatu perkumpulan olahraga. Pengertian kedua berkenaan dengan proses pengorganisasian, sebagai suatu cara dalam kegiatan organisasi di alokasikan dan di tugaskan diantara para anggotanya agartujuan organisasi dapat tercapai dengan efisien. Organisasi dapat menjalankan aktivitas secara baik dikarenakan unsur-unsur pendukung bekerja secara terpadu. (Wahyudi, 2008:7)
Ada lima unsur yang membentuk organisasi sebagai sistem (Liliweri, 2010:240), yaitu:
a.       Orang yang bekerja dalam organisasi
b.      Penetapan tugas oleh organisasi
c.       Teknologi untuk memperlancar tugas
d.      Struktur yang menunjang jenis pekerjaan dan mengatur intrelasi antar karyawan
e.       Lingkungan tempat organisasi itu berada
Dari beberapa defenisi di atas dapat di simpulkan bahwasannya organisasi merupakan suatu perkumpulan atau suatu kelompok yang terbentuk dari berapa orang dengan bebagai struktur yang ada didalamnya guna mencapai tujuan bersama.
2.      Macam-Macam Organisasi
Ada dua jenis organisasi yang ada dalam kehidupan masyarakat.
Pertama, Organisasi Sosial yaitu organisasi yang diciptakan secara tidak sengaja yang merujuk pada interaksi sosial dan regularitas yang teramati serta prilaku soaial yang disebabkan oleh situasi.  Adanya pola regularitas dalam interaksi sosial mengisyaratkan bahwa terdapat hubungan antara orang-orang yang mentransformasikan mereka dari suatu kumpulan induvidu kelompok orang atau dari sejumlah kelompok menjadi suatu sistem sosial (Face dkk,1998:41-42) Misalnya para suporter club sepak bola yang berada dalam satu tempat itu merupakan suatu organisasi sosial.
Kedua, Organisasi Formal yaitu organisasi yang didirikan dengan sengaja untuk tujuan-tujuan tertentu yang mana pencapaian tujuan tersebut memerlukan tujuan bersama dan akan terbentuk sebuah sistem organisasi (Face dkk, 1998:44).



3.      Pengertian Komunikasi Organisasi
Setelah membahas tentetang pengertian komunikasi dan organisasi maka dapat disimpul bahwa komunikasi organisasi secara garis besar mempunyai dua defenisi yaitu definisi fungsional dan definisi interpretif.
Secara fungsional komunikasi organisasi dapat di defenisikan sebagai pertujukan dan penafsiran pesan di antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagiab dari suatu organisasi tertentu. Sedangkan secara interpretif komunikasi organisasi dapat di artikan sebagai proses penciptaan makna atas interaksi yang merupakan organisasi (Face dkk. 1998:31 dan 33)
D.    Tinjauan Teoritis Tentang Kepemimpinan dan Pola Komunikasi Organisasi
1.      Kepemimpinan dalam Organisasi
Kepemimpinan pasti tidak akan terlepas dari sebuah organisasi yang mana kedua komponen tersebut merupakan dua komponen yang saling melengkapi.  Antara kepemimpinan dengan budaya organisasi memiliki hubungan yang sangat erat.Kepemimpinan dan budaya organisasi merupakan fenomena yang sangat bergantung, sebab setiap aspek dari kepemimpinan akhirnya membentuk budaya organisasi (http://dansite.wordpress.com/2011/03/22/hubungan-antarakepemimpinan-dengan-budaya-organisasi. Diakses 08 November 2011).
Anoraga (2003:25) mengatakan bahwa  kepemimpinan (leadership) merupakan inti dari pada sebuah organisasi karena kepemimpinan merupakan penggerak suatu organisasi. Hal ini dapat disimpulkan bahwasannya keberadaan seorang pemimpin dalam sebuah organisasi merupakan hal yang sangat inti karena sukses atau gagalnya suatu organisasi ditentukan oleh kualitas kualitas kepemimpinan dalam organisasi tersebut.
Istilah kepemimpinan dalam sebuah organisasi berkaitan dengan proses yang di sengaja dari seseorang untuk menekankan pengaruhnya yang kuat terhadap orang lain untuk membimbing, membuat struktur, memfasilitasi aktivitas dan hubungan dalam sebuah organisasi (Yulk, 2001:3).
Dalam hal ini kemampuan seseorang dalam memimpin merupakan hal yang paling utama terhadap keefektifan pribadi maupun organisasional. Jika daya kepemimpinannya dalam sebuah organisasi kuat, maka katubnya akan terbuka lebar. Namun sebaliknya jika maka keberhasilan dalam sebuah organisasi akan terbatas (maxwell, 2001:39).
Handoko (2003:299) menjelaskan, ada dua fungsi dari sebuah kepemimpinan dalam sebuah organisasi.Pertama, fungsi-fungsi yang berhubungan dengan tugas (taks-related) atau pemecahan masalah.Kedua, funngsi-fungsi pemeliharaan kelompok (group-maintenance) atau sosial.Fungsi pertama menyangkut pemberian saran penyelesaian, informasi dan pendapat.Fungsi kedua mencakup segala sesuatu yang membantu kelompok berjalan lebih lancar.

2.      Pola Komunikasi Dalam Organisasi
Mengenai pola komunikasi dalam sebuah organisasi Face dkk (1998:34) mengatakan bahwa komunikasi adalah hal terpenting bagi eksitensi organisasi dan berperannya lebih banyak dari pada sekedar melaksanakan rencana-rencana.Karena organisasi diciptakan, dipertahankan dan di transformasikan melalui komunikasi.
Dalam hal ini, Effendi (2009:122-124) menjelaskan dimensi-dimensi komunikasi dalam organisasi yaitu dimensi komunikasi internal yang terdiri dari:
a.       Komunikasi vertikal yaitu, komunikasi dari atas ke bawah (downward communication) dan dari bawah ke atas (upward communication) adalah komunikasi dari pimpinan kepada bawahan dan dari bawahan kepada pimpinan secara timbal balik (two-way traffic communication). Dalam komunikasi vertikal ini, pimpinan memberikan intruksi-intruksi, petunjuk-petunjuk, informas-informasi, penjelasan-penjelasan dan lain-lain kepada bawahannya dan bawahan memberikan laporan-laporan, saran-saran dan sebagainya kepada pimpinan.
b.      Komunikasi horizontal, yaitu komunikasi secara mendatar, anggota staf dengan anggota staf, karyawan sesama karyawan, dan sebagainya. Komunikasi ini berbeda dengan komunikasi vertikal yang sifatnya formal, karena komunikasi ini bisa dilakukan secara tidak formal seperti komunikasi diluar kerja.
3.      Korelasi antara Kepemimpinan dan Pola Komunikasi
Dalam sebuah organisasi, komunikasi mempunyai peranan dalam yang signifikan dalam menentukan sukses tidaknya sebuah organisasi, terutama komunikasi seorang pemimpin kepada para anggotanya.Mengenai hubungan kepemimpinan dengan pola komunikasi.
Mengenai organisasi dengan komunikasi, William V. Hanney dalam sebuah bukunya, Communication and Organizational Behavior, yang dikutip oleh Effendi (2009:116) mengatakan bahwasannya organisasi terdiri atas sejumlah orang, ia melibatkan keadaan saling bergantung dan kebergantungan memerlukan kordinasi, koordinasi mensyaratkan komunikasi.
Seorang pemimpin sebagai komunkator dalam sebuah organisasi mempunyai peranan dalam menyampaikan berbagai informasi antara lain:
a.       Peranan sebagai monitor, yaitu pemimpin selalu mengajukan pertanyaan kepada bawahannya untuk mendapatkan berbagai infornasi.
b.      Peranan sebagai penyebar, yaitu pemimpin selalu menyampaikan informasi mengenai organisasinya kepada khal layak luar.
c.       Peranan sebagai juru bicara, yaitu pemimpin juga mengkomunikasikan informasi kepada kepada khal layak.
Sebagai komunikator, seorang pemimpin dalam sebuah organisasi harus memilih salah satu berbagai metode dan teknik komunikasi yang disesuaikan dengan situasi pada waktu komunikasi dilancarkan. Sebagai komunikator, seorang pemimpin harus menyesuaikan penyampaian pesannya kepada peranannya yang sedang dilakukannya.
E.     Penelitian Terdahulu
Adapun penelitian terdahulu yang membahas tentang kepemimpianan dan pola organisasi adalah:
1.      POLA KOMINIKASI ORGANISASI (Studi Kasus Pola Komunikasi Antara Pimpinan Dan Karyawan Di Radio Kota Perak Yogyakarta) yang ditulis oleh Muzawwir Kholiq. Dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa proses komunikasi dalam suatu organisasi merupakan hal penyambung informasi antara pemimpin (manejer) dan yang dipimpin (karayawan) yang diaplikasikan di radio kota perak yogyakarta).
2.      Kepemimpinan Dan Komunikasi Organisasi Sebagai Factor Penentu Prestasi Kerja Karyawan yang ditulis oleh Romdoni. Dalam penelitian ini menyimpulkan Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa ada pengaruh signifikan dari kemimpinan dan komunikasi organisasi terhadap prestasi kerja karyawan dibuktikan dengan Fhitung (48,862) > Ftabel (3,133), ada pengaruh yang signifikan terhadap pengaruh prestasi karyawan sebesar Thitung (4,062) > t table (1,996), ada pengaruh yang signifikan dari kominikasi dan organisasi terhaap prestasi kerja karyawan sebesar t htiung (7,324) > t table (1,996, dan variable komunikasi organisasi memiliki pengaruh yang dominan terhadap pengaruh prestasi karyawan sebesar 0,600.
3.      POLA KOMUNIKASI ORGANISASI DAN EMPLOYEE RELATIONS  Studi Korelasional Tentang Pola Komunikasi Organisasi dalam  Employee Relations pada PT. FIF cabang SPEKTRA Medan) yang di tulis oleh Asrul Efendi. Dalam penelitian ini menyimpulkan Hasil penelitian menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,877 antara variabel pola komunikasi organisasi (X) dan variabel  employee relations (Y), yang berarti bahwa hubungan menunjukkan  korelasi sangat tinggi/ kuat sekali. Hubungan tersebut juga signifikan pada taraf kepercayaan 95%, dan diperoleh kesimpulan bahwa, pengaruh pola komunikasi organisasi terhadap  employee relations sebesar 76,91%, dan sisanya 23,09% ditentukan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
4.      KEPEMIMPINAN ORGANISASI DAN MOTIVASI KERJA (Studi Deskriptif dalam Kajian Komunikasi Organisasi di PT. Panca Pilar Tangguh Medan) yang di tulis oleh Janwardi Purba. Dalam penelitian ini menyimpulkan Hasil penelitian menunjukkan bahwa  kepemimpinaPanca Pilar Tangguh Medan memiliki peranan penting memotivasi para karyawan  sehingga mereka bisa mengh sebaik mungkin untuk mencapai tujuan perusahaan.


BAB III
METODE PENELITIAN

A.  Jenis Penelitian dan Pendekatan
Sesuai dengan judul, maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian studi kasus.Peneliti harus melakukanobservasi, wawancara ataupun diskusi langsung dengan informan yaitu anggota majelis kiai yang ada di Al-Amien Prenduan serta mengamati langsung pada objek yang diteliti guna mengumpulkan data yang valid.Sehingga peneliti bisa mendapatkan informasi yang jelas sesuai dengan kondisi di lapangan.Sedangkan pendekatan yang digunakan oleh peneliti adalah kualitatif. Adapun yang maksud dengan “pendekatan kualitatif adalah penelitian yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain sebagainya secara holistik dan dengan cara desktiptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah” (Moleong, 2009:6).
B.  Tempat Penelitian
Penelitian ini bertempat di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep.
C.  Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Informan yang akan diwawancarai adalah seluruh dewan riasah yang terlibat dalam organisasi yang berada di majlis kiai Al-Amien Prenduan seperti: KH. Muhammad  Idris Jauhari, KH. Maktum Jauhari, MA., sebagai wakil pengasuh/pimpinan, KH. Moh. Zainullah Rois, Lc., sebagai sekretaris, KH. Moh. Khoiri Husni, S.Pd.I., sebagai bendahara, KH. Fauzi Rosul, Lc.dan Dr. KH. Ahmad Fauzi Tijani, MA., sebagai anggota. Dari merekalah, peneliti akan menggali informasi seluas-seluasnya bagaimana model kepemimpinan kolektif yang bersifat transformasional dan kohesif serta  pola komunikasi antar anngota majelis kiai dalam berorganisasi.
D.  Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang kongkrit, peneliti harus menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut:
1.    Metode Interview atau Wawancara
Wawancara merupakan salah satu jenis alat pengumpulan data yang akan di gunakan peneliti dengan cara tanya jawab secara lisan yang dilakukan langsung ke sumber informasi. Dalam hal ini peneliti akan menggunakan wawancara terstruktur artinya pertanyaan disusun terlebih dahulu dengan rapi dan ketat. Menurut Moleong (2009:186) menyatakan bahwa “wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu”.
Informan yang  yang akan diwawancarai adalah seluruh anngota majlis kiai Al-Amien Prenduan.
2.    Metode Observasi
Peneliti menggunakan metode ini untuk memperkuat data, terutama aktifitas majelis kiai sebagai anggota organisasi dewan riasah serta sebagai pimpinan lembaga yang ada di pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.Sehingga data dari hasil wawancara dapat dibenarkan dengan kenyataan yang terjadi melalui observasi yang dilakukan peneliti.
Adapun observasi yang dilakukan oleh peneliti adalah mengikuti serta mengamati proses rapat selasaan yang diadakan setiap hari selasa guna memperoleh data yang sesuai dengan apa yang dinyatakan informan, kemudian peneliti juga mengamati kegiatan-kegiatan anggota majelis kiai sebagai pengasuh dilembaga masing-masing.
3.    Metode Dokumentasi
Dokumentasi dilakukan oleh peneliti untuk mengumpulkan data yang bersumber dari arsip atau dokumen di tempat penelitian yang ada hubungannya dengan penelitian tersebut.Sehingga dokumen ini dapat memperkuat data yang dikumpulkan peneliti.
Menurut Arikunto (2006:231) menyatakan “dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda dan sebagainya”.  
Dalam penelitian ini, yang peneliti maksud dengan dokumen penelitian adalah struktur ke anggotaan organisasi majelis kiai Al-Amien Prenduan, program-program serta foto-foto kegiatan dalam organisasi di majlis kiai Al-Amien Prenduan.



E.  Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Adapun teknik pemeriksaan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Membaca buku atau hasil penelitian terdahulu
Peneliti akan mencari dan membaca buku-buku dari hasil penelitian orang terdahulu yang mirip dengan penelitian ini. Hal ini dilakukan peneliti untuk menambah wawasan dan pengetahuan sehingga dapat membandingkannya dengan hasil penelitian lain.
2.    Melakukan diskusi dengan pihak lain
Diskusi dilakukan agar data yang diperoleh sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan. Selain itu juga untuk menambah informasi bagi peneliti yang bersumber dari pihak lain. Sehingga informasi yang didapatkan tidak hanya dari satu pihak.Dalam hal ini peneliti memperkuat data dengan banyak bertanya dengan pihak yang terikat dengan majelis kiai.
3.    Triangulasi
 “Triangulasi adalah teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk kepentingan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data ini. Teknik yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber data lain” (Moleong, 2009:330). Dalam hal ini peneliti akan membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara dan juga akan membandingkan wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

Peneliti disini menggunakan dua cara yaitu yang pertama membandingkan sumber data dengan sumber data yang lain. Yang kedua membandingkan hasil wawancara dengan hasil observasi. Karena kedua cara ini lebih tepat dengan judul yang akan diteliti dan sesuai dengan jenis penelitian yaitu studi kasus.Tidak hanya itu, cara ini juga dapat memudahkan peneliti untuk penelitiannya karena sumber tersebut mudah untuk didapatkan.
F.   Teknik Analisis Data
Menurut Bogdan yang dikutip oleh Rusli (2010:180) menyatakan bahwasannya “analisis data adalah merupakan sebuah proses mencari serta menyusun secara sistematis dan yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lainnya sehingga mudah dipahami agar dapat di informasikan kepada orang lain”. Data dalam penelitian ini pada hakekatnya berupa kata-kata, kalimat-kalimat dan bentuk narasi yang bersifat deskriptif.
1.    Pengumpulan Data
Data yang akan dikumpulkan akan berasal dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi kepada responden majelis kiai Al-Amien Prenduan.
2.    Reduksi Data
Menurut Patilima yang dikutip oleh Rusli (2010:183) menyatakan bahwa “reduksi data adalah proses analisis untuk memilih, memusatkan perhatian, menyederhanakan, mengabtraksikan, serta mentranformasikan data yang muncul dari catatan lapangan”. Dalam mereduksi data penulis akan membuat rangkuman inti. Adapun proses dan pertanyaan-pertanyaan harus dijaga agar tetap asli dan sesuai dengan informasi yang mudah diterima dari sumber data.
3.    Display Data
Display data atau penyajian data dilakukan dengan menyusun informasi catatan lapangan dan dokumen-dokumen yang diperoleh secara sistematis berdasarkan instrumen yang digunakan, sehingga penyajian data ini berubah menjadi informasi yang mudah diterima oleh pembaca (Rusli, 2010:193).
4.    Penarikan Kesimpulan
Untuk menarik kesimpulan, maka data yang tersaji dalam bentuk informasi, kemudian dianalisis secara terus-menerus dan berkesinambungan, agar dapat menghasilkan kesimpulan yang dapat menggambarkan suatu pola hubungan tentang peristiwa-peristiwa terjadi.









BAB IV
PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
Dalam bab ini diuraikan paparan data dan temuan-temuan lapangan selama penelitian dilakukan serta pembahasan hasil penelitian untuk memperoleh makna dan hakikat yang mendasari temuan tersebut.
A.    Paparan Data
Proses pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Kemudian reduksi data dilakukan untuk menyederhanakan dan memfokuskan masalah dengan cara mengileminasi data yang relevan dan yang tidak berkorelasi dengan fokus. Selanjutnya disajikan paparan data dan temuan penelitian yang merupakan susunan informasi dan hasil penelitian. Berikut akan dipaparkan data-data yang ditemukan selama penelitian dilakukan. Dimulai dengan sekilas tentang tentang Pondok Pesantren Al-Amien, pemaparan sistem kepemimpinan di majelis kiai Al-Amien Prenduan lalu dilanjutkan dengan pola komunikasi organisasi majelis kiai Al-Amien Prenduan.
1.      Sekilas Tentang Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan
a.     Letak Geografis Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan
Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan terletak berpusat di Desa Pragaan Laok, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur.Lokasi pondok Pesantren Al-Amien seluas k.l 20 ha, saat ini menyebar di Desa Pragaan Laok dan Desa Prenduan. Al-Amien Prenduan adalah lembaga yang berbentuk dan berjiwa Pondok Pesantren yang bergerak dalam lapangan pendidikan, dakwah, kaderisasi, ekonomi, sekaligus menjadi pusat studi Islam, dengan mengembagkan sistem-sistem yang inovatif, tapi berakar pada buda sa-Salafas-Sholeh.
Pondok pesantern Al-Amien merupakan lembaga yang berbentuk dan berjiwa pesantren serta bergerak dalam bedang pendidikan, dakwah kaderisasi, ekonomi dan pusdilam.  Sampai saat ini pondok pesantren Al-Amien Prenduan telah mendirikan berbagai lembaga pendidikan yaitu: PAUD, TK, Madrasah Diniyah (MD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) Sekolah menengah Kejuruan (SMK), Tarbiyaatul Mu’allimin Al-Islamiyah (TMI), SMP, SMA, dan MAK Tahfizdul Qur’an (MTA), serta Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien IDIA Prenduan (IDIA) yang memiliki tiga fakultas dan enam jurusan. Pada Tahun 2010 Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan mendirikan Ma’had Salafi yang bertempat di Al-Amien III Pondok Pesantren Al-Hikmah Desa KapediKec.Bluto.
Pondok Pesantren ini merupakan lembaga yang independen dan netral, tidak berafialisasi kepada salah satu golongan atau partai polotik apapun. Seluruh aset dan kekayaan Pondok Pesantren Al-Amien telah diwakafkan kepada umat islam dan dikelola secara kolektif oleh badan wakaf yang disebut “Majelis Kiai”. Untuk melaksanakan tugas sehari-hari, majelis kiai mendirikan sebua yayasan yang memiliki badan hukum dan telah terdaftar secara resmi pada kantor pengadilan Sumenep (warkat 2012:).
2.      Organisasi Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan
Dalam mengembangkan visi dan misinya, Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan dikembangkan secara bersamaoleh beberapa organisasi yang mana organisasi tesebut dikelola oleh kiai-kiai maupun oleh para asatid yang ada di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Ada beberapa organisasi Al-Amien Prenduan diantaranya:
a.    Dewan Riasah/Majelis Kiai Al-Amien Prenduan
Konsepsi kepemimpinan dalam sebuah organisasi menjadi hal penting yang harus diperhatikan.Hal itu karena kepemimpinan adalah dinamika sosial yang yang didalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dengan yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama.Dalam beberapa literatur disebutkan betapa kepemimpinan berpengaruh besar dalam mencapai kesuksesan sebuah organisasi.
Karenanya, Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan ini di bentuk sebuah sistem kepemimpinan kolektif yang. Dengan kepemimpinan seperti ini Pondok Pesantren Al-Amien diharapkan timbul kerja sama yang baik dalam mewujudkan cita-cita bersama dengan mentransformasikan nilai-nilai yang dianut untuk mendukung visi dan misi tujuan pondok Pesantren. Untuk itu dibentuklah lembaga tertinggi di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan ini yang disebut dengan istilah Dewan Riasah atau Majelis Kiai.
Dewan riasah ini diresmikan pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal 1427 H (11 April 2006) Dengan adanya organisasi ini Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan memiliki kapasitas dan kapabilitas yang tinggi yang mampu memimpin dengan penuh amanah dan keihklasan yang tulus.Serta memiliki karakter pengaruh karismatik, pendorong yang inspiratif dan kepekaan merasakan.
Dewan riasah atau majelis kiai ini terdiri dari kiai-kiai ssenior yang ada di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan sehingga di Majelis Kiai Al-Amien membentuk sebuah strktur guna melancarkan kinerja dari Majelis Kiai Pondok Pesantren Al-Amien.Oleh karena itulah Majelis Kiai membentuk struktur dengan formasi sebagai berikut:
1.      KH. Muhammad Idris Jauhari., sebagai ketua sekaligus pengasuh dan pimpinan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.
2.      KH. Maktum Jauhari, MA., sebagai wakil ketua dan pengasuh/pimpinan sekaligus Rektor IDIA Prenduan.
3.      KH. Zainullah Roiz, Lc., sebagai sekretaris sekaligus pengsuh TMI Al-Amien Prenduan.
4.      KH. Moh. Khoiri Husni, S.Pd.I., sebagai bendahara sekaligus pengasuh MTA Al-Amien Prenduan.
5.      KH. Fauzi Rasul, Lc., sebagai anggota sekaligus pengasuh Ma’had Salafy Al-Amien III Kapedi
6.      KH. Moh. Bahri As’ad, S.Pd.I., sebagai anggota sekaligus Pondok Pesantren Al-Amien Putri I.
7.      Dr. KH. Ahmad Fauzi Tijani, MA., sebagai anggota sekaligus wakil rector IDIA Prenduan.
b.   Majelis A’wan
Pondok Pesantren Al-Amien juga mendirikan sebuah organisasi badan pembantu dan pendamping Majelis Kiai yang disebut dengan Majelis A’wan. Selain menjadi pengawas, mediator dan konsultan bagi pengurus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Majelis A’wan juga berperan aktif dalam dunia pendidikan sebagai pimpinan, mudir atau pengarus dibeberapa lembaga yang berada dibawah naungan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Diantaranya sebagai Mudir Ma’had TMI, Mudir Ma’had MTA, Mudir Ma’had IDIA, Mudir Ma’han Tegal dan lain-lain.
Majelis A’wan yang terdiri dari kiai junior ini merupakan kader teras di lingkungan keluarga besar Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.Mereka adalah putra kiai atau menantu kiai, serta beberapa guru senior. Adapun susunan anggota majelis A’wan adalah:
1.        KH. Moh. Marzuki Ma’ruf, sebagai ketua Yayasan Al-Al-Amien Prenduan.
2.        KH. Fadli Fatrah, S.Sos.I, sebagai Ketua Badan Pengawas.
3.        KH. Bagus Amirullah, M.Sy, sebagai wakil ketua Badan Pengawas.
4.        Drs. KH. Saifurrahman Nawawi, sebagai Konsultan Sekretariat Yayasan Al-Amien Prenduan.
5.        KH. Moh. Fikri Husein, MA, sebagai Mudir Ma’had IDIA Putri.
6.        Drs. Ja’far Shodiq, MM., sebagai Koordinator Harian (KOHAR).
7.        KH. Saifuddin Qudsi, SHI, MA, sebagai Kepala Madrasah Aliyah Putri I Al-Amien Prenduan.
8.        KH. Muhajiri Musyhab, sebagai Pengasuh Pondok Tegal Al-Amien Prenduan.
9.        K. Abdul Wahid, MHI, sebagai Wakil Pengasuh Pondok Tegal Al-Amien Prenduan.
10.    KH. Abdullah Zaini, Lc.Q, sebagai Mudir Ma’had MTA Putri.
11.    Muthadi Mun’im, MA, sebagai Mudir Ma’had MTA Putra.
12.    KH. Ghozi Mubarok, MA, sebagai Naib Mudir ‘Aam MTA.
13.    KH. Bashtomi Tibyan, S.Pd.I, sebagai Mudir Ma’had Salafiyah Al-Amien III.
14.    K. Abdul Warist, S.Pd.I, sebagai Mudir Ma’had TMI Putra.
15.    Ust. Musleh Wahid, S.Pd.I, sebagai Mudir Ma’had TMI Putri.
16.    KH. Ach.  Sobri Shiddiq, S.Pd.I, sebagai Naib Mudir Ma’had    Tegal Al-Amien Prenduan.
17.    KH. Drs. Abdurrahman As’ad, sebagai Wakil Ketua Yayasan Al-Amien Prenduan.
18.    K. Abdul Qodir Jailani, M.Pd.I, sebagai Mudir Ma’had IDIA Putra.
19.    Ust. Iwan Kuswandi, sebagai Direktur Pusdilam
20.    KH. Mujammi’ Abd. Musyfi, Lc, sebagai Mudir Ma’had ‘Aly IDIA Prenduan
Dalam prakteknya Majelis A’wan ini tidak hanya bertugas sebagai  pengganti atau pengurus, tapi juga pembantu kinerja dan tugas-tugas Majelis Kiai. Majelis A’wan ini juga turut memberikan kontribusi dan dedikasi yang tinggi dalam pelaksanaan tugas-tugas kependidikan maupun manajerial sesuai dengan posisinyamasing-masing.
c.    Kordinator Harian (KOHAR)
Selain itu, untuk lebih mengintensifkan kinerja Dewan Riasah dalam melaksanakan tugasnya Dewan Riasah membentuk koordinator harian (Kohar) atau pembantu umum.Koordinator Harian inilah yang berfungsi sebagai mediator, kepada pengurus yayasan dan lembaga-lembaga yang ada dilingkungan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Adapun formasi Kordinator Harian pada tahun ini adalah sebagai berikut:
1.      KH. Drs. Ja’far Shodiq, MM sebagai ketua.
2.      Ust. Fitrah Sugiarto, S.Th.I sebagai wakil ketua.
3.      Ust. Ihsan Ilahi dan Ust. Syamhadi sebagai sekretaris
4.      Ust. Bahiruddin sebagai bendahara.
5.      Ust. Syamsul Arifin dan Ust. Khurrozi sebagai Bag. Rumah Tangga.
d.   Yayasan Al-Amien Prenduan (YAP)
Yaysan Al-Amien Prenduan (YAP) membawahi 6 lembaga/institusi Pendidikan yaitu: Pondok Tegal (Pa), Pondok Putri I (Pi), TMI (Pa-Pi), MTA (Pa-Pi), IDIA (Pa-Pi) dan Ma’had Salfi (Pa). lembaga ini bergerak dalam bidang keagamaan, sosial, dan kemanisian sesuai dengan tujuan pendirianya.
Adapun struktur dan formasi pengurus Yayasan Al-Amien Prenduan adalah sebabagai berikut, Ketua: KH. Muhammad Marzuki Ma’ruf, Wakil Ketua: KH. Drs. Abd. Rahman As’ad, Kepala Biro Pendidikan dan Pemberdayaan:KH. Umar Faruq, Lc, Kepala Biro Dakwah dan Pengembangan Masyarakat:Ust. Zainal Abidin, S.Sos.I, Kepala Biro Alumni dan Kaderisasi: Ust. Muslih Wahid, S.Pd.I, Kepala Biro Ekonomi dan Sarana: Ust. H. Mu’azd Rasyid, S.Sos.I (WARKAT, 2010-2011:7)
1.      Biro Pendidikan
Biro Pendidikan dan Pembudayaan adalah salah satu biro di Yayasan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan yang berfungsi sebagai penanggung jawab pelaksana program pendidikan di pondok ini, mulai dari tngkat dasar hingga perguruan tinngi
Biro Pendidikan dan Pembudayaan ini mempunyai tiga divisi,.ketigadivisi tersebut adalah: Koordinator Guru Master (Pengembangan Kurikulum), Koordinator Majelis Pertimabangan Organisasi (MPO) dan Markazul Lughat (Pengembangan Bahasa). Adapun struktur dari Biro Pendidikan adalah: Kepala:K. Umar Faruk Lc, Wakil: Ust. H. Nurhasan, Lc, S.Th.I, Sekretaris: Ust. Ust. Husnul Mubarok.Kordinator GM. Ketua: Ust. Nurhasan Wahyudi, Lc, Wakil: Ust. Ali Mufi, Lc, Sekretaris: Ust Endang Suhendar As. Koordinator MPO. Ketua: Ust. Zulfikar Ali, S.Sos.I, Wakil: Ust. Moh. Rizziq, S.Pd.I. Markazul Lughat. Ketua: Ust. Adam Malik, Wakil: Ust. Zainuddin.Sekretaris dan Bendahara: Ust. Muzayin (WARKAT, 2010- 2011:12).




2.      Biro Dakwah dan Pengabdian Masyarakat
Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan juga mendirikan suatu lembaga yang bergerak dibidang dakwah dan pemberdayaan masyarakat yang disebut Biro Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat.Biro ini benar-benar menjadi ujung tombak Al-Amien dalam realisasi misi dakwah baik secara konseptual maupun oprasional.Biro Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat telah membentuk tiga divisi dalam menjalankan dakwah dan memberdayakan masyarakat. Ketiga divisi itu antara lain: Takmir Masjid, Radio Suara Dakwah Al-Amien Prenduan (RASDA) dan lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM).
Adapun struktur dari lambaga Biro Dakwah yaitu: Kepala Biro: Ust. Zainal Abidin, S.Sos.I, Waka Biro: Ust. Muholis Rosyidi, Sekertaris dan Bendahara: Ust. Akmil Wathoni. Devisi Ta’mir Masjid,Ketua Ta’mir: Ust. Said Amin, S.Pd.I Sekretaris dan Bendahara: Ust. Ikhwan Amali.Devisi Rasda FM, Manager: Ust. Rudi Hartono, S.Sos.ISekretaris: Ust. Izzat Aini, Bendahara: Ust. Zubaidi Hasan, Devisi LPPM, Ketua: Ust. Moh. Ghufron Cholid, S.Sos.I. (WARKAT, 2010-2011:17)


3.      Biro Alumni dan Kaderisasi
Biro Kaderisasi dan Pembinaan Alumni merupakan salah satu biro yang berada di bawah Yayasan Al-Amien Prenduan.Lembaga berfungsi sebagai penanggung jawab pelaksanaan pembinaan terhadap alumni dan penyiapan kader-kader pondok yang tangguh dan militant. Satu hal yang menjadi perhatian biro ini adalah bagaimana setiap alumni mampu mengembangkan peran sebagai perekat umat dimana dan kapanpun ia berada.
Dalam menjalankan fungsinya untuk menyiapkan kader-kader dan alumni-alumni yang handal, biro ini dibantu oleh beberapa devisi koordinasi yang bertugas untuk mem-back up dan membantu kelancaran tugas-tugasnya, yaitu: Devisi IKBAL (Ikatan Keluarga Besar Al-Amien Prenduan), Divisi Pembinaan Kader Khusus (PKK) dan Divisi Pembinaan Guru-guru Tugas (PGT). Adapun struktur kepengurusan Biro Kaderisasi dan Alumni terdiri dari:Kepala biro: Ust Musleh Wahid S.Pd. Wakil Kepala Biro: Ust. Sa’di Arsyad.Sekretaris: Ust. Zubaidi Hasan, S.Pd.I. Divis PKK:Ust. Saiful Bahri, S.KM. Divisi IKBAL: KH. Shobri Shiddiq, S.Pd


4.      Biro Ekonomi dan Sarana
Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan tidak hanya menjadi sebuah lembaga yang berkonsentrasi kepada pendidikan, dakwah dan penyipan kader, akan tetapi juga senantiasa meningkatkan ekonominya. Oleh karena itu Pondok Pesantren mendirikan suatu lembaga organisasi yang disebut biro ekonomi dan sarana. Biro ekonomi dan sarana ini terbagi menjadi 4 divisi yaitu: Koprasi Pondok Pesantren (Kopontren), Badan Usaha  Non Koprasi (BUNK), Pelaksanaan Pemeliharaan dan Perluasan Tanah Wakaf (P3TW), Pelaksanaan Pengadaan dan Pemeliharaan Sarana dan Fisk (P3SF).
Adapun struktur kepengurusan Biro Ekonomi dan Sarana terdiri
dari konsultan, kepala Biro, Wakil Kepala, Ketua-ketua Divisi dengan formasi sebagai berikut: Konsultan: KH. Zanillah Rais, Lc, Kepala Biro: Ust. H. Mu’azd Rasyidi, S.Sos.I, Ketua Kopontren: Ust. Sukandar Tohir, Ketua BUNK: Ust. H. Faizal Amir, Ketua P3TW: Ust. Abdussalam Arif, Ketua P3SF: Ust. Sudirman Jailani (WARKAT: 2010-2011: 37).


























3.      Kepemimpinan di Majelis Kiai Al-Amien Prenduan
Konsepsi kepemimpinan dalam sebuah organisasi menjadi hal penting yang harus diperhatikan.Hal itu karena kepemimpinan adalah dinamika sosial yang yang didalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dengan yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama.Dalam beberapa literatur disebutkan betapa kepemimpinan berpengaruh besar dalam mencapai kesuksesan sebuah organisasi.
Karenanya, Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan ini di bentuk sebuah sistem kepemimpinan kolektif yang bersifat transformasional dan kohesif. Dengan kepemimpinan seperti ini Pondok Pesantren Al-Amien diharapkan timbul kerja sama yang baik dalam mewujudkan cita-cita bersama dengan mentransformasikan nilai-nilai yang dianut untuk mendukung visi dan misi tujuan pondok Pesantren. Untuk itu dibentuklah lembaga tertinggi di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan ini yang disebut dengan istilah Dewan Riasah atau Majelis Kiai.





(Gambar No. 1: Anggota Majelis Kiai Bersama Mentri Pendidikan)
(Sumber: WARKAT 2010-2011)
Dalam kepemimpinan kolektif  yang diterapkan oleh Dewan Riasah atau Majelis Kiai merupakansistem kepemimpinan yang sama halnya dengan sistem kepemimpinan demokratis dimana segala kebijakan, keputusan  yang ada di Pondok Pesantren Al-Amien ditentukan oleh Majelis Kiai dengan mesyawarah mufakat.Baik itu kebijakan yang menyangkut tentang kepondokan, majelis a’wan maupun kebijakan yang menyangkut semua komponen organisasi yang yang berada di bawah yayasan Al-Amien Prenduan.
Dalam hal ini sebagaimana dikemukakan oleh KH. Fauzi Rasul, Lc selaku anggota Majelis Kiai sekaligus sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Al-Amien III Kapedi ketika diwawancarai di kediaman pada hari Jum’at Tanggal 13 Januari pukul 09.30, beliau mengungkapkan:
“Seperti yang kita ketahui bahwa di Al-Amien itu seluruh kebijakan itu penentunya adalah majelis kiai, nah, kalau berbicara masalah sistem,  sistem dari kepemimpinan ini hampir mendekati sistem kepemimpinan demokratis karena kita menggunakan up down istilahnya masukan-masukan untuk mengembangkan organisasi ini itu dari berbagai pihak, terutama dari personal-personal majelis kiai sendiri. Segala permasalahan ditentukan dengan cara musyawarah bersama, ya apapun itu baik itu dari luar ataupun dalam, permasalahan-permasalahan tersebut slalu ditentukan dengan musyawarah” (transkip wawancara No 1).









(Gambar No. 2: KH. Fauzi Rasul, Lc bersama peneliti setelah melaksanakan wawancara
 (Sumber: Dok: Pribadi)
Hal ini juga dikemukakan oleh KH. Zainullah Raiz, Lc selaku sekretaris Majelis Kiai sekaligus sebagai pengasuh Pondok Pesantren TMI Al-Amien Prenduan ketika diwawancarai pada tanggal 19 Maret 2012 jam 09.00 di kediaman KH. Mohammad Idris Jauhari, beliau menuturkan:
“Ya secara kolegian, kolektif disini sama halnya dengan demokratis, karena pengambilan keputusan, kebijakan penting itu dilakukan bersama. Jadi yang mengambil keputusan, kebijakan itu adalah seluruh majelis kiai tidak sendirian tapi seluruh majelis kiai itu berkumpul, misalkan permasalahan yang ada kemudian kami mengambil keputusan bukan pribadi” (transkrip wawancara No. 3)

Begitupun dengan pernyataan DR. KH. Ahmad Fauzi Tidjani ketika diwawancarai oleh peneliti pada hari kamis tanggal 29 Maret 2012 jam 09.00 dikediamannya, beliau mengatakan:
“Al-Amien merupakan Pondok Pesantren yang menerapkan sistem kepemimpinan kolektif, jadi seluruh permasalahan, kebijakan dan keputusan itu ditentukan oleh majelis kiai yang mana kepputusan tersebut adalah hasil musyawarah mufakat oleh seluruh majelis kiai dan seluruh jajaran kepengusan di Pondok Pesantren Al-Amien.Jadi kalau berbicara masalah sistem dari kepemimpinan ini ya kita demokratis artinya seluruh kebijakan, keputusan itu di tentukan dengan musyawarah oleh majelis kiai itu sendiri” (transkip wawancara No. 4).








Pernyataan-pernyatan tersebut diperkuat oleh catatan observasi yang dilakukan peneliti pada hari Selasa 10 April 2012 jam 07. 00-09.30
Pada saat itu peneliti melakukan ovservasi kelapangan guna memperkuat pernyataan-peryataan yang disampaikan oleh para anggota majelis kiai mengenai sistem kepemimpinan kolektif.Ketika itu, peneliti mengikuti rapat selasaan yang bertempat di kediaman KH. Abu Syiri Sholahuddin. Rapat tersebut merupakan rapat yang di hadiri oleh semua lapisan-lapisan organisasi yang ada di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan yaitu Majelis Kiai, Majelis A’wan, pengasuh di masing-masing lembaga, mudir-mudir Ma’had serta organisasi yang berada dibawah Yayasan Al-Amien Prenduan seperti Kepala Biro dan divisi-divisi. Ketika itu peneliti mengikuti proses rapat tersebut mulai dari pertama pada jam 07.00 sampai selesai sekitar jam 09.30, dan pada saat itu banyak temuan-temuan yang di temukan peneliti terkait dengan sistem kepemimpinan kolektif ini. Seperti: pada saat itu salah satu yang menjadi pembahasan dan permasalahan pada rapat tersebut adalah masalah kelalaian para asatid dalam melaksanakan Qiyamul lail yang merupakan kewajiban dari KH. Muhammad Idris Jauhari sehingga hal ini menjadi permasalahan yang harus diselesaikan.Maka pada rapat tersebut majelis kiai sebagai pimpinan rapat meminta pendapat dan solusi kepada semua lapisan yang hadir pada rapat tersebut.Dan ketika itu berbagai pendapat dan solusi di sampaikan oleh beberapa kiai sehingga dari pendapat-pendapat tersebut dilakukan musyawarah mufakat oleh majelis kiai sampai ditemukan suatu kebijakan serta keputusan terkait dengan hal tersebut.Maka pada saat itu berdasarkan berbagai usulan dan solusi dari segenap peserta rapat majelis kiaipun mengambil suatu kebijakan yang mana kebijakan tersebut hasil dari musyawarah mufakat yang ketika itu dipimpin oleh KH. Maktum Jauhari, MA untuk lebih memperketat jam berapa para ustad harus tidur malam serta melakukan pengawasan yang lebih ketat lagidan mengambiltindakan ketika ada salah satu ustad yang tidak melaksanakan Qiamul lali. (catatan lapangan No. 8).














(Gambar No. 3: Suasana rapat selasaan pada Tanggal 10 April 2012)
(Sumber:Dok. Pribadi)

Dalam sistem kepemimpinan kolektif tidak ada sistem otoriter dalam mengambil sebuah kebijakan atau keputusan yang dilakukan oleh Majelis Kiai Al-Amien Prenduan akan tetapi ketika ada suatu pendapat yang mempertahankan pendapat tersebut dari salah satu anggota Majelis Kiai maka pendapat itu dilempar kepada anggota Majelis Kiai yang lain dengan dimusyawarahkan bersama kemudian diambilah sebuah keputusan dan kesepakatan bersama serta diputuskan langsung oleh pimipinan.
Pernyataan diatas sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh KH. Khoiri Husni, S.Pd.I pada tanggal 25 Januari 2012 pukul 14.00 WIB di kediamannya. Peneliti melontarkan pertanyaan-pertanyaanmengenai sistem kepemimpinan kolektif ini dan penelitipun tampa sengaja memberikan sedikit pernyataan bahwa kepemimpinan kolektif ini bisa termasuk demokratis tapi bisa juga otoriter. Lalu beliaupun mempertegas pernyataan yang peneliti lontarkan, beliau mengatakan:
“Ya, kalau berbicara masalah bentuk kepemimpinan ini, ya kepemimpinan ini termasuk kepemimpinan demokrasi karena ya itu tadi dalam menentukan atau mengambil suatu kebijakan ditentukan dengan musyawarah mufakat.Nah wajar saja bila seseorang umpamanya punya pendapat, mempertahankan pendapatnya itu bukan berarti bersifat otoriter, tetapi jika ada yang seperti itu, ya pendapat itu dilempar kemudian dimintai pendapatnya disitulah terjadi musyawarah atau sifatnya mengajukan pendapat-pendat kemudian diambilah suatu kesepakatan.Jika akhir dari pada kesepakatan itu tetap merujuk kepada usulan yang diusulkan bukan berarti itu otoriter, akan tetapi itu dianggap sebagai keputusan yang paling baik yang mana keputusan itu telah disetujui oleh seluruh anggota majelis kiai tersebut” (transkip wawancara No. 2).

Dewan riasah atau majelis kiai ini terdiri dari kiai-kiai senior yang ada di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan sehingga di Majelis Kiai Al-Amien membentuk sebuah struktur guna melancarkan kinerja dari Majelis Kiai Pondok Pesantren Al-Amien.Seperti yang dipaparkan oleh DR. KH.Ahmad Fauzi Tidjani diwawancarai pada tanggal 27 Maret 2012 pukul 09.00 beliau mengatakan:
Ya, karena sifatnya kolektif, tentu harus ada struktur.Struktur itu ya tentu ada ketua, ada wakil ketua, sekertaris, bendahara sesuai dengan stuktur kepengurusannya itu.Nah, disitulah nanti mereka yang berperan sesuai dengan kedudukannya, nah kalau di majelis kiai ini KH.Mohammad Idris Jauhari sebagai ketua atau pimpinan sedangkan wakilnya adalah KH. Maktum Jauhari dan yang lain itu sebagai anggota, anggota itu ya ada sekretaris, bendahara dan lain sebagainya. Nah, dalam menentukan atau mengambil suatu kebijakan itu tidak lepas dari musyawarah mufakat” (transkip wawancar No. 4).

Dalam kepemimpinan kolektif ini membentuk sebuah formasi kepengurusan untuk lebih mengefektifkankinerja dari organisasi dewan Riasah iniyangmana ketentuan akhir sebuah keputusan, kebijakan serta permasalahan yang ada di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan ditetapkan olehmajelis kiai itu sendiri kemudian deserahkan pimpinan setelah dimusyawarahkan dan disepakati oleh anggota majelis kiai.KH. Fauzi Rasul, Lc member penegasan:
“Ya karena apaun kolektifitas kita, ya tetap harus dipimpin juga.Jadi ketentuan akhir ya ada dipimpinan majelis yaitu KH. Mohammad Idris Jauhari” (transkip wawancara No. 1).

Sementara itu KH.Khoiri Husni, S.Pd.I memberikan penjelasan mengenai bagaimana suatu keputusan, kebijakan serta permasalahan yang ada di Al-Amien untuk diambillah suatu keputusan. Dengan tegas beliau memberi penjelasan kepada peneliti:
“Seluruh anggota majelis kiai boleh usul boleh mengutarakan pendapat kemudian diambil suatu keputusan oleh pimpinan itu sendiri namun, keputusan itu merupakan kesepakatan dari seluruh anggota majelis kiai” (transkip wawancara No. 2).
Kemudian ketika peneliti mewawancari DR. KH. Ahmamad Fauzi Tidjani beliau mengatakan:
                       “Dalam sebuah komunitas atau kegiatan yang melibatkan banyak orang ya harus disepakati dan ditentukan oleh pimpinan. Tapi pimpinan tidak akan mengambil keputusan yang semiena-mena tampa persetujuan dan kesepakatan dari anggota majelis kiai yang lain. Maksudnya ada hal saling terkaid yaitu ada pemimpin tapi pemimpin tidak bertindak semau gue, begitupun anggota tidak bertindak dengan  mengabaikan posisi pimpinan” (transkip wawancara No. 4).

Ada beberapa alasan Pondok Pesantren menerapkan sistem kepemipinan kolektif seperti yang terjadi di Majelis Kiai itu sendiri.Yang pertama, alasan Pondok pesantren Al-Amien menerapkan sistem kepemimpinan kolektifi ini adalah karena kebersamaan yang mana kebersamaan dalam islam merupakan hal yang sangat potensial. Seperti yang dipaparkan oleh KH. Fauzi Rasul:
“Ya, karena kebersamaan, kebersamaan dalam Islam itu sangat potensial, kalau kita lakukan secara bersama-bersama isyaallah kita selalu maju kedepan dan akan selalu terhindar dari misscommunication atau kesalah pahaman, terhindar dari fitnah.Pokoknya insyaallah terhindar dari kesalahanlah.Seperti yang telah disabdakan oleh rasulullah “umatku tidak akan pernah sepakat terhadap sesuatu yang salah” jadi secara kolektif istilahnya bukan secara personality” (transkip wawancara No. 1).

Kemudian mengenai manfaat dari kepemimpinan kolektif ini, beliau megatakan:
“Banyak sekali manfaat dari kepemimpinan kolektif ini, misalnya masukan-masukan itu lebih efektif dari pada kepemimpinan personal.Kita lebih banyak menyerap inspirasi dari berbagai pihak, misalnya dari pemerintah, dari tokoh-tokoh dan dari ulama-ulama termasuk juga dari santri, mudir-mudir dan lain sebagainya” (transkip wawancara No. 1).

Yang kedua, alasan Pondok Pesantren Al-Amien menerapkan sistem kepemimpinan kolektif ini adalah bahwasannya Pondok Pesantren Al-Amien diharapkan tidak berdiri hanya dengan kemampuan personal akan tetapi bisa berdiri oleh kemampuan dan pendapat-pendapat orang secara kolektif. Hal ini sesuai dengan apa yang telah dipaparkan oleh KH. Khoiri Husni:
“Ya, karena kita menginginkan sesuatu yang lebih nyaman, jadi dengan kepemimpinan kolektif ini, pondok ini diharapkan tidak berpangku kepada kemampuan satu orang tetapi tegak diatas pendapat-pendapat dari sekian orang itu, pendapat orang banyak katakanlah itu akan lebih efektif susuai dengan prinsif islam “wasyawirhum fil amri” dan musyawarahlah kamu dalam suatu urusan” (transkip wawancara No. 2).
Dan ketika peneliti menanyakan manfaat Pondok Pesantren Al-Amien menerapkansistem kepemimpinan kolektif ini, beliau langsung menjawab:
“Sangat besar sekali, “in tusif tajib mafihan, in tukhti’ tu’dzar”, itu prinsipnya. Jadi kalau proses kepemimpinan kolektif jika ada suatu masalah lewat musyawarah benar itu semua orang mendukung tapi ternyata dalam musyawarah itu keliru dalam menentukan atau metuskan suatu masalah ya dimaafkan, tetapi kalau mau-maunya sendiri, suka-sukanya sendiri ya pasti ditegur banyak orang” (transkip wawancara No. 2).

Alasan yang ketiga Pondok Pesantren Al-Amien menerapkan sistem kepimimpinan kolekti adalah bahwasannya kepemimpinan ini sangat diterima oleh masyarakat karena apapun yang berkaitan dengan kebijakan yang ada di Pondok pesantren Al-Amien merupakan hasil Musyawarah.Hal ini sesuai dengan yang dipaparkan oleh KH. Zainullah Raiz, Lc, beliau mengatakan:
“Karena itu akan lebih diterima oleh masyarakat, misalnya kalau ada kekurangan katakanlah kesalahan itu tidak ada yang disalahkan karena itu sudah hasil musyawarah dan hasil kesepakatan dan keputusan itu berdasarkan pertimbangan dari para majelis kiai sehingga untuk sampai ketingkat kesalahan yang patal itu jarang sekali.Jadi keputusan itu memang valid dan itu didukung bersama karena bukan keputusan pribadi dan tidak ada unsur kepentingan pribadi” (transkip wawancara No. 3).

Sedangkan manfaat dari kepemimpinan ini menurut KH. Zanillah Rais, Lc beliau mengatakan:
“Manfaat dari kepemimpinan ini sangat basar sekali contohnya dirasakan sangat positif, semua lapisan dapat menerima karena itu hasil dari kebijakan secara kolektif yang tidak ada kepentingan pribadi semuanya berjalan dan semuanya itu melaksanakan itu” (transkip wawancara No. 3).

Dalam rangka membentuk kepemimpinan transformasional yang kohesif, Dewan Riasah juga berperan sebagai konseptor, manajer, dan supervisor yang selalu mengedepankan responsibility dan dedikasinya sebagai pemimpin.Oleh karenanya, beberapa anggota Dewan Riasah ini diberi amanah untuk menjadi pengasuh di suatu lembaga pendidikan yang berada dibawah naungan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.
Dalam hal ini, anggota majelis kiai mempunyai tanggung jawab yang besar dalam memegang amanah dalam menjalankan dua tugas sekaligus, yaitu sebagai anggota majelis kiai dan juga sebagai pengasuh di lembaga tersebut. Menurut KH. Khoiri Husni S.Pd.I yang ketika itu masih menjabat sebagai pengasuh TMI Al-Amien Prenduanbeliau memberikan penjelasan mengenai kapan beliau harus memposisikan dirinya sebagai anggota majelis kiai dan kapan beliau harus memposisikan diri sebagai pengasuh TMI Al-Amien Prenduan.
“Ya, tergantung pada kebutuhan.Saya sebagai anggota majelis kiai, ya disaat ada masalah yang berkenaan dengan organisasi dewa ri’asah ini ya posisi saya harus tetap sebagai anggota majelis kiai.Namun ketika berbicara mengenai ke TMI an ya saya berperan sebagai pengasuh TMI” (transkip wawancara No. 2).






Hal ini sesuai dengan temuan peneliti dilapangan ketika hendak melakukan wawancara dengan KH. Zanullah Raiz, Lc Pada tanggal 13Maret 2012 sekitar jam 08.00
Ketika itu peneliti menuju kekediaman beliau untuk mewawancarai beliau, ketika peneliti megucapkan salam ternyata istri beliau yang keluar dan mengatakan bahwa beliau sedang ada rapat majelis kiai dan penelitipun tidak jadi untuk mewawancarai beliau. (catatan lapangan No. 3)

Kemudian hari kedua pada tanggal 14 Maret 2012 peneliti hendak menemui beliau kembali
Ketika itu peneliti melaksanakan sholat magrib berjamaah guna mempermudah menemui beliau, sesudah sholat magrib berjamaah penelitipun menunggu beliau keluar dari masjid dan akhirnya penelitipun menemui beliau dan menjelaskan maksud peneliti sampai akhirnya beliau menyuruh peneliti untuk manemui beliau pada tanggal 15 Maret 2012. (catatan lapangan No. 4)

Kemudian pada tanggal tanggal 16 Maret 2012 peneliti mendatangi beliau kembali sesuai dengan permintaan beliau
Ketika itu KH. Zainullah Raiz, Lc  meminta peneliti untuk menunggu sebentar karena beliau masih membuka acara  Diklat Ketua Kelompok Santri’12 (KKS) TMI Al-Amien Prenduan yang bertempat di aula TMI. Maka penelitipun menunggu sampai akhirnya acara tersebut selesai dan penelitipun mewawancari beliau di kediaman KH. Muahammad Idris Jauhari dengan waktu yang singkat karena beliau masih ada acara lain yang berkenaan dengan tugas beliau sebagai pengasuh TMI Al-Amien Prenduan (catatan lapangan No. 5)
















(Gambar No. 4: KH. Zainullah Raiz, Lc ketika membuka acara Diklat Ketua Kelompok Santri’12 (KKS) TMI Al-Amien Prenduan) (Sumber: Dok. Pribadi)


Dari beberapa paparan diatas membuktikan bahwasannya anggota majelis kiai menjalankan tugas sesuai dengan kebutuhan mereka dalam memegang dua jabatan sekaligus.Mereka dapat memposisikan tugas dan tanggung jawab mereka sesuai dengan kebutuhan baik itu sebagai anggota majelis kiai maupun sebagai pengasuh lembaga yang ada di Al-Amien Prenduan.
4.      Pola Komunikasi organisasi Majelis Kiai Al-Amien Prenduan
Dalam sebuah organisasi tentunya tidak terlepas dari sebuah komunikasi, baik itu komunokasi antara pimpinan kepada bawahan dan sebaliknya begitupun juga komunikasi antara angota dengan anggota yang lain.
Dalam komunikasi di dewan riaasah Al-Amien Prenduan, tentunya tidak terlepas dari sebuah proses bagaimana komunikasi yang akan disampaikan olehmajelis kiai kepada anggota atau semua lapisan baik itu majelis a’wan dan yang lainnya begitupun anggota majelis kiai yang satu terhadap kiai yang lain dapat diterima baikitu informasi maupun opini dalam mengembangkan visi dan misi dari organisasi tersebutyang hal itu tidak terlepas dari tradisi-tradisi islam dan pesantren yang selalu menjungjung tinggi posisi kiai.seluruh majelis kiai memberikan kebeasan kepada anggota-anggotanyaapa untuk memberikan opini, pendapat-pendapat atau masukan-masukan yang perlu dipecahkan.
Hal ini sesuai dengan apa yang dipaparkan oleh KH. Khoiri Husni, S.Pd.I  ketika diwawancarai pada tanggal 25 Januari 2012 jam 14.00 di kediaman, beliau memaparkan:
“Pola komunikasi kita masyaallah sangat bagus, karena setiap ada permasalahan yang tidak lepas dari tradisi-tradisi pesantren dimana kita tetap menjunjung posisi kiai kita lakukan.Seluruh anngota memberikan proses pendidikanketika kami baik ketika dalam forum atau diluar forum, semua lapisan kami ajak bicara, dan dipersilahkan untuk menyampaikan apa yang perlu disampaikan dalam sebuah forum, artinya tidak dikekang dan diberikan kebebasan ketika ada masalah kita bicarakan dan dikomunikasikan bersama dalam sebuah musyawarah dan kita sepakati, kita amankan, kita amalkan dalam rangka kelanjutan dari lembaga ini” (transkip wawancara No. 2).
Ketika peneliti melakukan beberapa kali ovservasi kelapangan peneliti banyak menemukan pola dan bentuk-bentuk komunikasi baik itu komunikasi pimpinan kepada bawahan, bawahan kepada pimpimpinan dan komunikasi antar anggota majelis kiai.
Dalam mengembangkan visi dan misi Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, ada beberapa pola komunikasi antara lain komunikaasidirect yaitu komunikasi secara langsung artinya pimpinan memberikan intruksi, petunjuk-petunjuk, informasi-informasi serta penjelasa-penjelasan secara langsung dari pimpinan itu sendiri. Dan komunikasi indirectyaitu komunikasi tidak langsung
Hal ini sejalan dengan apa yang telah di paparkan oleh KH. Fauzi Rasul dalam wawancaranya pada tanggal 13 Januari 2012 jam 09.00 di kediamannya, beliau memaparkan:
“Komunikasi kita dalam mengembangkan visi dan misi dewan riasah ini adalah komunikasi directyaitu komunikasi langsusng ya biasanya anggota majelis kiai memberikan intruksi, informasi ya terkadang arahan-arahan yang berkaitan dengan kelancaran pondok, tapi kadang-kadang ada yang indirect atau secara tidak langsusng ya di Al-Amien sendiri ada semacam disposisi pimpimpinan” (transkip wawancara No. 1).

Komunikasi majelis Kiai yang berbentuk intruksi dan arahan-arahan biasanya terjadi ketika proses rapat selasaan berlansung. Hal ini sesuai dengan hasi ovseservasi yang dilakukan oleh peneliti pada hari Selasa tanggal 27 Maret 2012.
Pada saat itu peneliti mengikuti rapat majelis kiai yang bertempat di kediaman K. Mujami’ Abdul Musyfi, Lc. Pada rapat tersebut salah satu majelis A’awan Drs. KH.Ja’fa Shodiq selaku Koordinator Harian (KOHAR) menyampaikan suatu keluhan dari salah sebagian santri TMI Al-Amien agar santri diberi kesempatan untuk noton bareng pertandingan bola.Kemudian keluhan dari santri tersebut dilempar kepada majelis kiai.Setelah dimusyawarahkan oleh seluruh anggota majelis kiai dan kemudian anggota majelis kiai memberikan arahan dan penjelasan terkait dengan hal tersebut bahwasan usul tersebut di terima asal tidak mengganggu aktivitas santri yang telah menjadi kewajiban Pondok sperti sholat tahjjud. Maka disitu terjadi proses saling mengutarakan pendapat antara anggota majelis kiai sampai kemudian diambilah suatu kebijakan dan keputusan yang mana kebijakan tersebut sudah disepakati oleh seluruh anggota majelis kiai bahwa semua santri diperbolehkan untuk nonton bareng pertandinagn bola dengan catatan hanya ketika pertandingan tersebut sedah masuk kebabak final ataupun penrtandingan tersebut dimainkan oleh club-club bola yang memang sudah terkenal dan tidak mengganggu aktivitas santri yang telah menjadi kewajiban Pondok maka pada saat itu Majelis kiai memberikan intruksi kepada mudir-mudir agar lebih memperketat lagi pengawasan kepada santri setelah selesai nonton bareng. (catatan lapangan No. 8).

Kemudian pada saat peneliti melakukan ovservasi yang kedua pada tanggal 10 April 2012 yang pada saat itu peneliti mengikuti rapat selasaan yang bertempat di kediama KH. Abushiri Sholahuddin.
Pada saat itu ketika rapat mengenai normalisasi Pondok yaitu tentang banyaknya para asatit yang tidak melakukan Qiyamullaili kemudian pada saat itu KH. Fauzi Rasul, Lc menatakan bahwa beliau sering mendapatkan informasi yang berupa sms dari KH. Muhammad Idris Jauhari mengenai hal tersebut.

Seperti apa yang telah di paparkan oleh KH. Fauzi Rasul, Lc diatas bahwasannya pola komunikasi yang ada di majelis kiai selain komunikasi langsung ada juga bentuk komunikasi secara tidak langsung seperti ketika ada surat masuk kepada pimpinan yang datang dari devisi-devis Pondok Pesantren Al-Amien baik itu dari Majelis A’wan, Mudui-mudir, biro-biro serta yang datang dari luar  biasanya berupa surat-surat permohonan, proposal maupun hasil rapat.  Maka pimpinan sendiri akan memberikan disposisi yang mana dalam disposisi tersebut berisi kebijakan, saran-saran dan solusi dari pimpimpinan mengenai hal tersebut.
Hal ini sesuai dengan apa yang di temukan oleh peneliti ketika peneliti bermaksud ingin mewawancarai KH. Muhammad Idris Jauhari.
Pada saat itu tepatnya pada tanggal 29 Maret peneliti mengantarkan surat permohonan melakukan wawancara dengan beliau dan empat hari kemudian tepatnya pada tanggal 2 April 2012 peneliti mendapatkan jawaban yang berupa disposisi pimpimnan yang mana disposisi tersebut ditujukan kepada KH. Maktum Jauhari MA dan kepada peneliti sendiri.Dalam disposisi tersebut berisi bahwasannya KH.Muhammad Idris Jauhari tidak bisa di wawancarai karena factor kesehatan beliau dan beliau menyarankan agar mewawancarai KH. Makktum Jauhari atau ke Majelis Kiai yang lain.


























(Gambar No. 5: Salah satu contoh disposisi pimpinan kepada peneliti)
(Sumber: KOHAR Al-Amien Prenduan)



Dalam mengenbangkan visi dan misi organisasi Dewan Riasah dalam mengembangkan Pondok Pesantren Al-Amien seluruh lapisan yang ada di Pondok Pesantren Al-Almien boleh mengutarakan pendapa-pendat serta masukan-masukan baik itu dari anggota majelis A’wan, mudir-mudir dan biro-biro.
Dalam hal ini, sejalan dengan apa yang telah dipaparkan oleh DR. KH. Ahmad Fauzi Tidjani selaku anggota majelis kiai sekaligus wakil rector IDIA Prenduan ketika diwawancarai pada tanggal 29 Maret 2012 di kediamannya, beliau memaparkan:
“Komunikasi kita ketika musyawarah berlansung sangat fair artinya dalam musyawarah proses komunikasi antara majelis kiaidengan seluruh lapisan yang ada di Pondok ini baik itu dari majelis a’awan atau yang lainnya berjalan dengan lancar artinya seluruh majelis kiai memberikan kebebasan kepada anggota majelis kiai dengan mengutarakan pendapat artinya seluruh anggota atau seluruh lapisan boleh usul boleh mengutarakan pendapat kemudian diambil suatu keputusan oleh majelis kiai itu sendiri” (transkip wawancara No. 4).

Dalam hal ini seluruh anggota memberikan informasi baik itu mengenai mengenai keadaan Pondok dan mengenai program-program dari setiap divisi-divisi baik itu dari Yayasan, Mudir-mudir Pondok dan biro-biro.Seluruh laporan dan informasi tersebut disampaikan ketika musyawara atau rapat berlangsung.


Hal ini sesuai dengan hasil ovservasi yang dilakukan peneliti pada tanggal 10 April 2012 yang ketika itu peneliti mengikuti rapat selasaan yang bertempat di kediama KH. Abu Shiri Sholahuddin.
Pada saat itu rapat dipimpin oleh Ketua Yayasan Al-Amien KH.Marsuki Ma’ruf yang dimulai dengan laporan dari setiap bagian mengenai agenda yang sudah berjalan selama satu minggu dan agenda seminggu kemudian selain itu setiap bagian diberi kesempatan untuk menyampaikan keluhan-keluhan serta permasalahan-permasalahan yang ada di yang berkaitan dengan bagian-bagian tersebut.

Anggota majelis Kiai sendiri juga memberikan kesempatan kepada semua santri mengenai permasalah-permasalah yang ada di Pondok Pesantren Al-Amien. Dalam hal ini untuk memudahkan komunikasi Antara santri dengan Majelis Kiai terutama dengan pimpinan sendiri maka pimpimpinan memberikan kesempatan untuk menampung semua keluhan maupun sarana yang datang dari santri maupun asatit lewat tulisan atau surat melalui kotak putih (White Box) yang disediakan oleh Majelis Kiai sendiri dan hal ini merupakan bentuk komunikasi santri dengan pimpinan.
Dalam hal ini sesuai dengan apa yang di temukan dilapangan oleh peneliti sendiri bahwa disetiap lembaga ternyata disediakan satu kotak putih (White Box) demi memudakan komunikasi santri dengan Pimpinan sendiri.

















Gambar 6: Kotak Putih (White Box) sebagai alat komunikasi santri kepeda pimpinan (Dok. Pribadi)

Dalam hal ini, anggota majelis kiaipun ternyata serinng melakukan komunikasi yang berkaitan dengan organisasi dewan riasah diluar forum atau nonformal, baik itu melalui via telfon atau ketika bertemu di jalan.Seperti yang telah disampaikan oleh KH. Khoiri Husni, S.Pd.I ketika diwawancarai, beliau memaparkan:
“Ya komunikasi kita tidak mesti dalam musyawarah atau pertemuan formal, kita sering melakukan komunikasi yang berkaitan dengan organisasi ini lewat via telfon, ketiaka bertemu di jalan, oh ini begini ini begini oh ya nanti kita bicarakan, oh ya nanti kita sampaikan.Jadi sifatnya tidak kaku dan tidak mesti komunikasi kita dalam forum pertemuan formal. Ketumu dijalan oh begini, ia nanti sampaikan ke kiai yang lain, oh ya nanti kita bicarakan. Lues sekali dan sangat fleksibel” (transkip wawancara No. 2).



















(Gambar No. 5: KH. Khoiri Husni, S.Pd.I sedang menggunakan alat komunikasi HP untuk memudahkan berkomunikasi jarak jauh dengan anggota Majelis Kiai yang lain)
(Sumber: Dok. Pribadi)


Pernyataan KH. Khoiri Husni diperkuat oleh temuan peneliti dilapangan ketika peneliti ingin melakukan wawancara dengan KH. Fauzi Rasul, Lc pada tanggal 13 Januari 2012 dikediamannya.
Setibanya peneliti di kediaman KH. Fauzi Rasul, Lc peneliti langsung mengucapkan salam namun tidak ada jawaban sampai tiga kali salam, kemudian beliaupun mejawab salam peneliti yang keempat kalinya, dan beliaupun mempersilahkan masuk kedalam kediaman beliau. Kemudian peneliti mengatakan maksud kedatanganya untuk mewawancarai beliau.Beliaupun tidak kebratan.Ketika kami sedang melakukan wawancara HP beliau berdering dan ternyata setelah peneliti Tanya yang menelfon adalah DR. KH. Ahmad Fauzi Tidjani (catatn ovservasi No. 1).

Perkembangan tehnologi ternyata sangat berpengaruh besar terhadap lancarnya komuniasi atau informasi yang tidak terbatas waktu dan jarak.Hal ini dirasakan sendiri olehKH. Zainullah Raiz, Lcketika ingin melakukan komunikasi diluar forum dengan anggota majelis kiai yang lain yang berkaitan dengan organisasi dewan riasah ini.
Hal ini sesuai dengan pemaparan beliau ketika diwawancarai, beliau mengatakan:
“Dalam melakukan komunikasi diluar kerja sangat lancar apalagi dengan adanya tehnologi yang tidak terbatas dengan waktu dan jarak jadi kami selalu melakuakan komunikasi diluar acara resmi yang berkaitan dengan organisasi ini, namun ketika ada masalah yang harus dipecahkan kami langsung berkumpul adi istilahnya tidak terjadwal, bahkan ketika kami ada acara penting kemudian majelis kiai mengajak rapat, maka kami batalkan kami utamakan rapat majeli kiai itu” (transkip wawancara No. 3).

B.     Temuan Penelitian
Setelah peneliti memaparkan data penelitian, peneliti juga memaparkan  temuan-temuan sesuai dengan fokus penelitian.
1.      Sistem Kepemimpinan Kolektif yang bersifat Transformasional dan Kohesif Majelis Kiai Al-Amien Prenduan
Pondok pesantren Al-Amien menerapkan sistem kepemimpinan kolektif yang di peganglansung  oleh majelis kiai yang mana majelis kiai merupakan lembaga tertinggi di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Sistem kepemimpinan ini merupakan sistem kepemimpinandimana seluruh kebijakan dan keputusan serta permasalahanyang ada di Pondok Pesantren Al-Amien dalam mengembangkan visi dan misinya ditentukan dengan musyawarah mufakat yang kemudian hasil kebijakan dan keputusan yang telah dimusyawarahkan secara mufakat diputuskan oleh seluruh dewan riaasah atau majelis kiai. Maka berdasarkan dari paparan diatas temuan yang didapatkan oleh peneliti bahwasannya sistemkepemimpinan kolektif yang bersifat transformasional dan kohesif merupakan sistem yang sama halnya dengansistem kepemimpinan demokratis.
Kemudia temuan dari penelitian ini ternyata ada beberapa alasan danmanfaatmengapa Pondok Pesantren Al-Amien menerapkan sistem kepemimpinan kolektif ini, di antaranya:
  Alasan yang pertama, Pondok pesantren Al-Amien menerapkan sistem kepemimpinan kolektifi ini adalah karena kebersamaan yang mana kebersamaan dalam islam merupakan hal yang sangat potensial. Alasan Yang kedua adalah bahwasannya Pondok Pesantren Al-Amien diharapkan tidak berdiri hanya dengan kemapuan personal akan tetapi bisa berdiri oleh kemampuan dan pendapat-pendapat orang secara kolektif. Dan alasan yang ketiga adalah bahwasannya kepemimpinan ini sangat diterima oleh lapisan masyarakat karena apapun yang berkaitan dengan kebijakan yang ada di Pondok pesantren Al-Amien merupakan hasil Musyawarah.Sedangkan manfaat dari kepemimpinan ini diantaranya adalah pengambilan kebijakan, keputusan serta masukan-masukan lebih efektif dan juga dirasakan sangat positif dan dapat di terima oleh semua lapisan.
2.      Pola Komunikasi organisasi Majelis Kiai Al-Amien Prenduan
Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan maka penelitipun menemukan beberapa temuan penelitian tentang pola komunikasi kepemimpinan kolektif ini yaitu bahwasanya pola komunikasi yang ada di majelis kiai ini berdasarkan dengan nilai-nilai islam yang tidak terlepas dari tradisi-tradis pesantren yang selalu menjunjung tinggi posisi kiai baik.  Selain itu dari paparan diatas peneliti menemukan bentuk-pola komunikasi yang ada di Majelis Kiai Al-Amien Prenduan antara lain:
a.      Komunikasi vertikal
Dari paparan diatas peneliti menemukan beberapa temuan terkait dengan pola komunikasi yang berbentuk komunikasi vertikal yaitu komunikasi dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas yaitu komunikasi dari pimpinan ke pada bawahan dan dari bawahan kepada atasan. Dalam hal ini ada dua bentuk pola komunikasi vertikal yang ada di Majelis Kiai sendiri. Pertama adalah komunikasi langsung (direct communication) yang berbentuk intruksi-intruksi, petunjuk-petunjuk informasi-informasi serta penjelasan-penjelasan di mana hal tersebut umumnya terjadi ketika rapat kerja berlansung.Proses komunikasi tersebut berlangsung sangat fair dimana seluruh majelis kiai selalu memberikan intruksi-intruksi, petunjuk-petunjuk , arahan-arahan serta penjelasan-penjelasan mengenai yang baik dan yang tidak baik mana yang harus disepakati  serta memberikan kebebasa-kebebasan kepada semua baigan-bagian untuk memberikan pendapat, solusi serta saran-saran dalam mencapai suatu hasil keputusan dan kebijakan yang kemudian ditetapkan oleh majelis kiai itu sendiri.


Kemundian yang kedua adalah pola komunikasi vertikal yang berbentuk komunikasi tidak langsung (Indirect Communication)yang berbetuk disposisi dari pimpinan. Disposisi ini adalah salah satu bentuk komunikasi majelis kiai terutama pimpinan sendiri yang berbentuk tulisan yang berisi intruksi-intruksi, penjelasan-penjelasan serta saran-saran yang mana disposisi ini dikeluarkan ketika ada surat masuk kepada pimpinan yang berbentuk proposal, surat-surat dan hasil rapat.
Kemudian dalam memudahkan proses komuniaksi antara majelis kiai dengan santri terutama komunikasi santri dengan pimpinan maka majelis kiai sendiri memberikan kesempatan kepada santri untuk menyampaikan saran-saran, kritik-kritik serta keluhan-keluhan dari para santri, maka majelis kia sendiri memberikan kesempatan untuk menyampaikan hal-hal tersebut lewat komunikasi melalui surat yang dikirim melalui kotak putih (White Box) yang mana seluruh lembaga disediakan satu kotak puti demi memudahkan komunikasi santri dengan majelis kiai trutama dengan pimpinan sendiri.
b.      Komunikasi Horizontal
Pola komunikasi yang kedua yang ada di Majelis Kiai Al-Amien sendiri adalah pola komunikasi yang berbentuk komunikasi horizontal yaitu komunikasi secara mendatar antara anggota dengan anggota yang lain yang mana antara anggota majelis kiai saling memberikan intruksi-intruksi, arahan-arahan, petunjuk-petunjuk, informasi-informasi dari anggota majelis kiai yang satu ke anggota majelis kiai yang lain dan komunikasi ini berbeda dengan komunikasi vertikal yang mana komunikasi ini bisa dilakukan di luar forum antau non formal. Dalam hal ini, anggota majelis kiaipun ternyata serinng melakukan komunikasi yang berkaitan dengan organisasi dewan riasah diluar forum atau nonformal yang berupa, baik itu ketika bertemu di luar forum ataupun melalui via telfon atau ketika bertemu di jalan,hal ini karenaperkembangan tehnologi yang ternyata sangat berpengaruh besar terhadap lancarnya komuniasi atau informasi yang tidak terbatas waktu dan jarak. Hal ini dirasakan sendiri oleh anggota majelis kiai itu sendiri.












BAB V
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Setelah peneliti menguraikan dan memaparkan hasil penelitian sebelum pembahasan.Peneliti mendapat kenyataan-kenyatan dibawah ini dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana sistem kepemimpinan kolektif serta pola komunikasi organisasi di organisasi Dewan Riasah atau Majelis Kiai Al-Amien Prenduan.
A.      Sistem Kepemimpinan Kolektif Organisasi Majelis Kiai Al-Amien Prenduan
Pada dasarnya seorang pemimpin melakukan kegiatanya dalam membibing, mengarahkan, mempengaruhi, menggerakkan para pengikutnya dalam rangka mencapai tujuan.Untuk itu diperlukan kefektifan dalam memimpin, semua itu tergantung dari model kepemimpinan yang di terapkan oleh pemimpin tersebut.
Anoraga, (2003:7-8) membagi model atau gaya kepemimpinan menjadi tiga jenis yaitu:
d.      Kepemimpinan otokratik yaitu kepemimpinan yang berdasarkan atas kekuasaan mutlak segala keputusan berada di satu tangan. Model kepemimpinan ini sering membuat pengikutnya tidak senang dan sering frustasi.
e.       Kepemimpinan Demokratik yaitu kepemimpinan berdasarkan demokrasi, dalam arti bukan di pilihnya si pemimpin itu secara demokratik melainkan cara yang dilaksanakan pemimpin yang demokratik. Sipemimpin melaksanakan kegiatan sedemikian rupa sehigga setiap hasil keputusan merupakan hasil musyawarah
f.       Kepemimpinan Bebas yaitu seorang pemimpin sebagai penonton bersifat fasif.
Sedangkan di organisasi majelis kiai sendiri pengambilan kebijakan dan keputusan yang ada di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan dalam mengembangkan visi dan misinya ditentukan secara kolektif yang dihasilkan secacara musyawarah mufakat dan kemudian kebijakan serta keputusan tersebut ketentuan ahirnya berada berada di majelis kiai itu sendiri.Maka sesuai dengan fokus penelitian ini, sistem kepemimpinan di majelis kiai menurut berapa anggota majelis kiai adalah sistem kepemimpinan demokratik.
B.       Pola Komunikasi organisasi Majelis Kiai Al-Amien Prenduan
Mengenai pola komunikasi dalam sebuah organisasi Face dkk (1998:34) mengatakan bahwa komunikasi adalah hal terpenting bagi eksitensi organisasi dan berperannya lebih banyak dari pada sekedar melaksanakan rencana-rencana.Karena organisasi diciptakan, dipertahankan dan di transformasikan melalui komunikasi.



Dalam hal ini, Effendi (2009:122-124) menjelaskan dimensi-dimensi komunikasi dalam organisasi yaitu dimensi komunikasi internal yang terdiri dari:
a.       Komunikasi vertikal yaitu, komunikasi dari atas ke bawah (downward communication) dan dari bawah ke atas (upward communication) adalah komunikasi dari pimpinan kepada bawahan dan dari bawahan kepada pimpinan secara timbal balik (two-way traffic communication). Dalam komunikasi vertikal ini, pimpinan memberikan intruksi-intruksi, petunjuk-petunjuk, informas-informasi, penjelasan-penjelasan dan lain-lain kepada bawahannya dan bawahan memberikan laporan-laporan, saran-saran dan sebagainya kepada pimpinan.
b.      Komunikasi horizontal, yaitu komunikasi secara mendatar, anggota staf dengan anggota staf, karyawan sesama karyawan, dan sebagainya. Komunikasi ini berbeda dengan komunikasi vertikal yang sifatnya formal, karena komunikasi ini bisa dilakukan secara tidak formal seperti komunikasi diluar kerja.
Sedangkan pola komunikasi dimajelis kiai sendiri terdiri dari dua bentuk pola komunikasi yang pertama komunikasi vertikal dimana komunikasi ini terbagi menjadi dua yaitu komunikasi langsung (Direct Communication) yang berupa intruksi-intruksi, petunjuk-petunjuk, informasi-informasi penjelasan-penjelasan serta arahan-arahan yang lansung dari majelis kiai itu sendiri baik ketika dalam keadaan formal maufun non formal seperti ketika rapat berlansung maupun ketika diluar rapat begitupun staf-stafnya memberikan laporan, saran-saran dan sebagainya. kemudian komunikasi tidak lansung (Indirect Communication)yang berupa komunikasi tertulis dari majelis kiai itu sendiri terutama dari pimpinan yang berupa disposisi pimpinan yang mana dalam disposisi ini adalah semacam intruksi-intruksi, arahan-arahan serta saran-saran dan solusi yang yang mana disposisi ini dikeluarkan ketika ada surat masuk kepada pimpinan yang berbentuk proposal, surat-surat,  hasil rapat dan lain sebagainya.
Selain itu proses komunikasi di majelis kiai berlasung secara horizontal yang mana antara anggota majelis kiai saling memberikan intruksi-intruksi, arahan-arahan, petunjuk-petunjuk, informasi-informasi dari anggota majelis kiai yang satu ke anggota majelis kiai yang lain. Dalam hal ini berbeda dengan komunikasi vertikal yang mana komunikasi ini dilakukan di luar forum seperti ketika bertemu dalam satu tempat dan juga melaui alat komunikasi seperti HP dan sebagainya.





BAB VI
PENEUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas, peneliti dapat mengambil kesimpulan terhadap penelitian ini:
1.      Dalam mengembangkan visi dan misinya Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan menerapkan sistem kepemimpinan kolektif yang dipegang langsung oleh dewan riaasah atau majelis kiai sebagai lembaga tertinggi di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Sistem kepemimpinan kolektif ini adalah sistem kepemimpinan yang merujuk kepada sistem kepemimpinan demokratis dimana seluruh kebijakan dan keputusan yang ada di Pondok pesantren Al-Amienditentukan oleh seluruh majelis kiai melalui musyawarah mufakat.
2.      Ada dua pola komunikasi yang diterapkan oleh majelis Kiai Al-Amien prenduan yang pertam komunikasi vertikaldimana komunikasi vertikal ini terdiri dari dua bentuk yaitu komunikasi langsung (Direct Communication)yaitu komunikasi yang berupa intruksi-intruksi, petunjuk-petunjuk, informasi-informasi penjelasan-penjelasan serta arahan-arahan yang lansung dari majelis kiaidan komunikasi tidak langsung (Indirect Communication) dimana komunikasi ini adalah komunikasi tertulis dari majelis kiai yang berupa disposisi yang berupa intruksi-intruksi, arahan-arahan serta saran-sara dan solusi dari majelis kiai terutama dari pimpinan. Kemudian yang kedua pola komunikasi di majelis kiai adalah komunikasi horizontal yang mana antara anggota majelis kiai saling memberikan intruksi-intruksi, arahan-arahan, petunjuk-petunjuk, informasi-informasi dari anggota majelis kiai yang satu ke anggota majelis kiai yang lain.
B.     Saran-saran
1.      Kepada seluruh anggota majelis kiai agar dalam menentukan suatu kebijaka dan keputusan tidak hanya ditentukan oleh majelis kiai saja, akan tetapi lebih baik lagi jika meminta pendapat dari berbagai pihak yang menyangkut dengan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan terutama dari santi dan mahasiswa.
2.      Kepada seluruh anggota majelis kiai agar mengadakan dialog dengan seluruh santri maupun mahasiswa mengenai permasalahan-permasalahan yang ada di Pondok Pesantren Al-Amien sehingga seluruh santri ataupun mahasiswa dapat mengetahui permasalahan-permasalah yang ada di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar